Di Indonesia, atau bahkan di berbagai belahan dunia, telah lazim kiranya saling bertukar ucapan selamat yang sejatinya adalah berarti kepedulian, kesadaran, penerimaan, sambutan, dan kepekaan terhadap sesama, serta mengandung motivasi serta doa untuk orang yang diberikan ucapan selamat tersebut.

Budaya bertukar ucapan selamat tersebut dilakukan di hampir setiap moment kehidupan sehari-hari. Dalam momen makan, ada ucapan selamat makan, have a nice meal!, hani’an mari’a. Dalam momen tidur, ada ucapan selamat tidur. Dalam pergantian waktu juga demikian, ada selamat pagi, selamat siang, selamat malam, selamat sore. Ada juga selamat tahun baru, selamat ulang tahun. Di momen pertemuan, ada selamat datang, selamat tinggal, samai jumpa kembali, dan selamat jalan.

Di momen Ramadhan juga demikian, ada ucapan selmat berpuasa, selamat datang Ramadhan, selamat berbuka puasa, selamat makan sahur, selamat tarawih, selamat beribadah, dan seterusnya. Betapa ucapan selamat itu telah menjadi bagian setiap detik kehidupan kita.

Ia menjadi pengingat bahwa kita bahwa kita telah melalui pagi, siang, sore, petang, malam, dan pagi lagi. Ia menjadi penyadar bahwa kita diberikan keselamatan oleh Allah sehingga dapat berpuasa, berbuka, bersahur, beribadah, dan beraktifitas lainnya. Menjadi penyambut kedatangan kita, sebuah penghargaan, apresiasi, dan penghormatan yang tak terkira. Ia juga penuh doa. Dengan demikian, ucapan-ucapan selamat tersebut pada hakikatnya adalah kalimat-kalimat thayyibah, apapun bahasa dan bentuknya.

Sebagai kalimat thayyibah, tentu ia tidak dapat disebut sebagai bidah. Karena, kalimat thayyibah ada dua macam. Ada kalanya, kalimat thayyibah itu berupa kalimat yang telah jadi, siap pakai, sudah dari “Sana”nya begitu, seperti la ilaha illallah, subhanallah, alhamdulillah, bismillah, dan sejenisnya. Adakalanya kalimat thayyibah itu berupa kalimat biasa, buatan manusia berdasarkan budayanya, namun diniatkan untuk kebaikan, menebar kedamaian, dan berbagi kemanfaatan, serta tujuan mulia lainnya.

Baca Yuk:  Ini Sabab Wurud Hadis Penyakit 'Ain

Tidak ada yang perlu diragukan lagi status hukumnya. Dalam ucapan selamat yang bermuatan doa tersebut juga tidak mesti menggunakan kata seperti “barakallah” misalnya, karena kata tersebut yang biasa dipakai oleh para sahabat pada masa Nabi. Karena, boleh jadi orang-orang yang tidak berbahasa Arab justru tidak familiar dengan kata tersebut, sehingga ucapan selamat yang berupa kepedulian, kesadaran dan sambutan itu menjadi tidak terasa apa-apa.

Dalam kata “selamat” juga tersimpan makna berkah. Orang yang selamat adalah orang yang berlimpahan kebaikan. Sehingga, ketika seseorang mengganti kalimat ramadhan mubarak (Ramadhan penuh berkah), dengan Selamat Ramadhan, maka hal itu sama saja. Sama-sama sunnah. Karena esensi dari ucapan selamat adalah bukan terletak pada bunyi lafalnya, melainkan pada makna lafalnya.

Demikian itu adalah dalil aqli dari kesunnahan bertukar ucapan selamat, untuk momen apapun, termasuk Ramadhan. Lalu, adakah dalil naqli-nya?

Nabi Muhammad saw pernah memberikan ucapan selamat Ramadhan kepada para sahabatnya,

عن أبى هريرة أن رسول الله  – صلى الله عليه وسلم –  قال وهو يبشر أصحابه قد جاءكم رمضان، شهر مبارك. افترض الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه الشياطين. (رواه أحمد والبيهقي)

Menurut keterangan Abu Hurairah, Nabi pernah memberi ucapan selamat bergembira kepada para sahabatnya. Seperti ini ucapannya. “Kalian telah tiba di bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah. Allah mewajibkan puasa. Pintu-pintu surga terbuka. Puntu-pintu neraka tertutup. Setan-setan terbelenggu.” (Selamat!). HR. Ahmad dan al-Baihaqi.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan dalam kitab Latha’if al-Ma’arif, bahwa hadis tersebut menjadi dasar bagi budaya saling bertukar ucapan selamat Ramadhan.

هذا الحديث أصل في تهنئة الناس بعضهم بعضا بشهر رمضان.

Baca Yuk:  Macam-Macam Hari Raya dalam Hadis Nabi

“Hadis tersebut menjadi dasar bagi budaya bertukar ucapan selamat antara satu sama lain atas kehadiran bulan Ramadhan.”

Bahkan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, mengkritik mereka yang tidak mau bertukar ucapan selamat atau menyambut Ramadhan, apalagi membidahkannya. Beliau menyindir,

كيف لا يبشر المؤمن بفتح أبواب الجنان كيف لا يبشر المذنب بغلق أبواب النيران كيف لا يبشر العاقل بوقت يغل فيه الشياطين من أين يشبه هذا الزمان زمان

 “Koq ada seorang mukmin tidak mau menyambut pintu surga yang terbuka lebar?

Koq bisa seorang pendosa tidak mau menyambut tertutupnya pintu neraka?

Koq bisa orang berakal tidak mau bahagia atas terpenjaranya setan-setan?”

Menurut Ibnu Rajab, dalam hadis lain, Nabi Muhammad saw lebih tegas lagi dikabarkan menyambut Ramadhan seperti ini,

أتاكم رمضان سيد الشهور فمرحبا به و أهلا

“Telah datang kepada kalian saat ini, bulan Ramadhan, Si Raja bulan! Selamat Datang Ramadhan! Selamat berbahagia, saudaraku! Selamat berpuasa!”

No more articles