Sunnah Taqririyah dan Logika Bidah Hasanah

Dalam ilmu hadis telah umum diketahui bahwa yang dimaksud hadis adalah segala yang diyakini bersumber dari Nabi. Entah itu berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sekedar keinginan dan sifat-sifat yang melekat pada diri Nabi. Apapun yang mendeskripsikan Nabi dari berbagai aspeknya adalah hadis Nabi. Sedangkan dalam terminologi ulama hadis, sunnah dan hadis adalah sama. Sehingga, apapun yang menjadi deskripsi tentang Nabi juga disebut sebagai sunnah.

Suatu perkataan (qauliyyah) Nabi dinyatakan sebagai sunnah yang mengandung hukum syariat karena memang memiliki substansi yang patut diteladani oleh umat Islam. Demikian pula perbuatan (fi’liyyah), pikiran, dan keinginan (hammiyah) Nabi, ketika dilaporkan oleh para sahabatnya, hal itu mengindikasikan adanya substansi pembicaraan (khithab) terkait dengan teladan yang patut ditiru.

Bahkan, suatu deskripsi (washfiyyah) tentang diri Nabi sekalipun, pasti memiliki tujuan dan substansi khusus (khithab) dalam pelaporannya oleh para sahabat Nabi, yaitu untuk dijadikan pelajaran.

Ucapan, perbuatan, sifat-sifat dan deskripsi diri Nabi, semua itu adalah materi-materi hadis yang melekat pada diri Nabi. Semuanya jelas bersumber dari Nabi. Beliau yang membawanya secara langsung. Beliau yang menyampaikannya secara langsung. Beliaulah yang melakukannya secara langsung. Beliau juga yang menampilkannya secara langsung. Entah itu dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang ada di sekeliling beliau maupun tidak. Namun, secara umum, semua jenis materi hais di atas adalah berasal dari Nabi secara langsung.

Hal ini berbeda sekali dengan hadis taqriri atau sunnah taqririyyah, yaitu hadis yang latar belakang kemunculannya adalah perilaku sahabat Nabi. Artinya, sebenarnya suatu sunnah atau materi hadis itu tidak bersumber dari Nabi, melainkan dari para sahabat Nabi. Merekalah yang menginisiasi suatu perbuatan atau perilaku. Merekalah yang berinovasi. Lalu disampaikan kepada Nabi, dilihat, disaksikan, atau didengar oleh Nabi. Setelah itu, barulah Nabi meresponnya.

Respon Nabi terhadap inisiatif dan inovasi sahabat Nabi itu ada dua macam. Adakalanya berupa penolakan yang berarti ketidaksetujuan nabi terhadap inovasi dan inisiatif Nabi. Adakalanya berupa persetujuan. Persetujuan pun adakalanya yang disampaikan secara gamblang, luagas, dan adakalanya hanya diekspresikan dengan diam, no comment. Semua jenis respon Nabi tersebut, itulah yang dinamakan dengan sunnah taqririyah. Laporan tentang sunnah taqririyyah disebut dengan hadis taqriri.

Pada umumnya, ketika menolak atau tidak setuju dengan inisitif maupun inovasi yang diperbuat oleh sahabatnya, Nabi tidak menggugatnya. Misalnya, dengan menyatakan ini bid’ah, ini kufur, apalagi sampai menyebut kamu telah fasik, kamu telah kufur, si A adalah ahli bidah, si B telah berbuat bid’ah. Nyaris tidak ditemukan, bahkan memang tidak ada, pola penolakan yang demikian itu. Nabi selalu menolak atau tidak menyetujuinya dengan cara yang sangat santun, dengan pola bimbingan, pengarahan, tidak menggugat, tidak membuat sahabatnya tersinggung, malu, apalagi sakit hati.

Baca Yuk:  Al-Hakim al-Naisaburi: Menghafal Hadis Itu Sulit, Harus Tulus

Sedangkan saat menyetujui, Nabi lebih sering menyampaikan dalam bentuk apresiasi, pujian, atau harapan baik. Tak jarang pula, Nabi menyetujui inovasi dan inisiatif sahabatnya dengan cara diam saja. Respon diam alias no comment, itu menunjukkan hukum minimal ibahah atau mubah. Nabi memberikan pilihan untuk melakukan atau meninggalkannya. Keduanya tidak masalah.

Respon persetujuan itu menunjukkan bahwa pada masa Nabi jelas telah ada praktik bidah hasanah, meskipun Nabi sama sekali tidak menyebutnya sebagai bidah. Bahkan yang ada, Nabi menyebutnya dengan sunnah hasanah. Ini menunjukkan betapa Nabi adalah orang yang sangat arif dalam menyikapi hal-hal baru. Betapa Nabi tidak gampang menggugat atau menolak inisiatif dan inovasi yang diperbuat sahabat. Bahkan, ketika inisiatif dan inovasi itu menyangkut peribadatan sekaligus.

Misalnya, ketika Nabi sedang berhaji, lalu mendengar ada sahabat yang bertalbiyah, Labbaika Allahumma ‘an Syubrumah (Ya Allah, kami datang memenuhi panggilanmu, menggantikan Syubrumah), jelas hal itu belum pernah diajarkan oleh Nabi. Tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi mengajari laki-laki itu tentang cara bertalbiyah menggantikan saudaranya. Namun saat mendengarnya, Nabi mengapresiasinya agar tetap melanjutkan badal haji, setelah ia berhaji untuk dirinya sendiri.

Dalam hal ruqyah, tayamum, shalat Asar di Bani Quraidlah, dan masih banyak kasus lain, Nabi juga demikian. Mengapresiasi para sahabatnya. Di mana, jelas apa yang mereka lakukan adalah atas dasar “ijtihad” para sahabatnya. Ijtihad tersebut juga atas dasar inisiatif mereka, inovasi mereka. Bahkan, dalam kasus shalat asar di Bani Quraidlah, ijtihad, inisitaif, dan inovasi para sahabat itu dilakukan saat sudah ada nassh yang jelas dari Nabi mengenai petunjuk pelaksanaannya. Namun, beliau tetap mengapresiasinya.

Baca Yuk:  Hadis Musalsal: Pengertian dan Periwayatannya

Itulah yang dimaksud dengan logika bidah hasanah. Atau bahkan, jika tidak disebut sebagai bidah hasanah, itulah yang dimaksud dengan sunnah hasanah, sunnah taqririyah. Hakikat materinya bukan bersumber dari Nabi, melainkan dari sahabat Nabi. Nabi kemudian menyetujuinya.

Tentu hal itu menjadi tidak ada masalah sama sekali terkait dengan legalitasnya, karena memang Nabi sendiri yang menyetujuinya. Lalu, bagaimana jika bidah hasanah atau sunnah hasanah itu baru muncul setelah Nabi wafat? Masihkah logika itu dapat dipakai? Hampir semua ulama Islam, menyatakan bahwa logika itu masih berlaku, meskipun pernyataan mereka tidak secara eksplisit. Hal itu dapat dipahami dari konsep qiyas (analogi) yang memiliki posisi penting dalam penetapan hukum syariat.

Belum lagi, sepeninggal Nabi untuk mendapatkan taqrir tersebut juga dapat digantikan dengan konsep ijma’, baik itu ijmak yang lugas (sharih), maupun ijmak yang tidak lugas (sukuti; tanpa penolakan). Demikianlah, logika bidah hasanah ternyata memiliki akar dan landasan hukum yang sangat kuat dalam prinsip dasar hukum syariat (ushulut tasyri’), yaitu melalui konsep sunnah taqririyah, ijma’, dan qiyas. Wallahu a’lam.