Siapa yang Berhak Jadi Imam Salat?

Dalam kitab Riyadlussalihin yang merupakan panduan menjadi orang-orang saleh dan menyediakan gambaran taman “tempat nongkrong”nya orang-orang saleh, Imam al-Nawawi membuat satu judul bab berisi tentang pengutamaan para ulama dan para sesepuh serta tokoh masyarakat sesuai dengan posisi masing-masing.

Ini artinya, dalam pandangan Imam al-Nawawi, salah satu cara menjadi orang saleh adalah dengan melakukan hal tersebut. Karena itu, wajar pula jika di masyarakat, seringkali kita jumpai bahwa untuk mengukur kesalehan seseorang, maka seseorang itu akan dilihat bagaimana sikap dan perilakunya terhadap para ulama, para sesepuh, dan para tokoh. Jika ia beradab baik, maka dapat dinyatakan sebagai orang yang saleh. Namun, jika adabnya kurang baik, tidak sopan, tidak memuliakan mereka dan tidak menghormatinya, maka tak salah jika ia dinyatakan sebagai orang yang tidak saleh.

Ini artinya, kita sebagai anak muda, jika ingin menjadi pemuda yang salih, maka harus tau diri. Siapa kita di sejajaran para tokoh masyarakat, para sesepuh, dan para ulama. Kita juga harus paham bahwa gelar ulama, sesepuh (al-kibar), dan tokoh masyarakat (ahlul fadhl) yang disebut dalam bab ini bukanlah gelar formal yang bisa diperoleh sekedar melalui sekolah atau dibuktikan dengan sertifikat tertentu.

Gelar-gelar tersebut tentu merupakan gelar sosial, yang didapatkan secara alamiah. Ia diberikan oleh masyarakat tanpa diminta, dan tanpa diupayakan sedemikian rupa untuk memperolehnya. Itulah gelar-gelar sosial yang akan menjadikan seseorang itu salih dan dapat dijadikan sebagai ukuran kesalihan orang lain saat berinteraksi dengannya.

Seseorang dinyatakan sebagai ulama bukan karena berijazah S1, S2, dan S3 atau berkelar profesor, dan sejenisnya. Melainkan, ia dinyatakan sebagai ulama karena keilmuannya dinyatakan bermanfaat besar oleh masyarakat. Orang yang berilmu luas sekali, jika manfaatnya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat, maka tidak dapat disebut sebagai ulama.

Seorang sesepuh, yang dalam hal ini diistilahkan dengan al-kibâr oleh imam al-Nawawi, juga tidak akan memperoleh status sosial sebagai sesepuh karen ia telah melakukan perbuatan ini dan itu. Melainkan, itu adalah gelar natural yang diperoleh oleh seseorang karena ia telah melewati masa-masa kehidupan yang panjang berikut manis-pahitnya kehidupan. Mereka adalah orang-orang berusia tua yang harus dihormati dan muliakan. Itulah sesepuh, mereka harus dituakan.

Baca Yuk:  Cats Better at Photobombing Than You

Sedangkan yang ketiga adalah para tokoh masyarakat (ahlul fadhl). Mereka itu menjadi tokoh masyarakat juga karena jasanya di masyarakat. Ia memiliki peran yang penting dan biasanya pasti dituakan. Orang yang memiliki keutamaan sehingga menjadi tokoh ini tidak harus dari kalangan ulama. Melainkan, siapapun yang memiliki peran penting di masyarakat, berhak mendapatkan keutamaan dan pengutamaan dari mereka. Itulah ahlul fadhl. Keberadaannya dalam hal ini dapat menjadi ukuran kesalihan bagi orang lain.

Selanjutnya, Imam al-Nawawi mengutip sebuah ayat,

قل: هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أولو الألباب

 “Katakanlah, (Muhammad!), apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang mengingat hanyalah orang-orang yang menggunakan fikirannya.” (az-Zumar: 9)

Ayat ini dijadikan sebagai landasan bahwa pengutamaan yang sejati adalah dilandasi oleh keilmuan. Seseorang yang berilmu, dan manfaat dari ilmunya itu dapat dirasakan oleh banyak orang, maka akan disebut ulama, sekaligus sesepuh, meskipun usianya masih muda, dan dijadikan sebagai tokoh masyarakat karena memiliki keutamaan ilmu tersebut. Karena itu, orang yang berilmu akan pandai menghormati orang lain, sehingga keberadaannya yang demikian itu juga menjadi ukuran bagi kesalihan orang lain.

وعن أَبي مسعودٍ عقبةَ بن عمرو البدري الأنصاري – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( يَؤُمُّ القَوْمَ أقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ الله ، فَإنْ كَانُوا في القِراءةِ سَوَاءً ، فأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإنْ كَانُوا في السُّنَّةِ سَوَاءً ، فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإنْ كَانُوا في الهِجْرَةِ سَوَاءً ، فَأقْدَمُهُمْ سِنّاً ، وَلاَ يُؤمّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ في سُلْطَانِهِ ، وَلاَ يَقْعُدْ في بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إلاَّ بِإذْنهِ )) رواه مسلم .

Dari Abu Mas’ud, yaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Badri al-Anshari radhiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Yang berhak menjadi imam (shalat) bagi suatu kaum ialah yang terbaik bacaan al-Qurannya. Jika semua jamaah di situ sama baiknya dalam hal bacaan al-Quran, maka yang terpandai dalam as-Sunnah atau hadis. Jika semua sama pandainya dalam as-Sunnah, maka yang terdahulu hijrahnya. Jika dalam hal hijrahnya sama-sama, maka yang tertua usianya. Janganlah seorang itu menjadi imam (salat) bagi orang lain karena ia memiliki kekuasaan atas orang lain itu dan jangan pula seorang itu duduk dalam rumah orang lain itu, apalagi di atas kursi prbadinya, kecuali dengan restunya.” (HR. Muslim)

Baca Yuk:  “KITA SEMUA KAFIR!”: Sebuah Edukasi dari Pelayan Nabi

Hadis di atas, berbicara secara spesifik dalam hal pengutamaan saat salat. Dalam urusan salat, seseorang yang paling utama menjadi terdepan dan diikuti oleh seluruh jamaah adalah yang paling bagus bacaan al-Qurannya. Kebagusan di sini bukan berarti banyaknya hafalan. Melainkan, kualitas bacaan. Orang yang hafal al-Quran, tetapi bacaannya tidak bagus, maka tidak berhak masuk kategori ini. Bacaan menjadi penting karena menyangkut kualitas salat imam dan kualitas salat para jamaahnya.

Kemudian, yang diutamakan di barisan terdepan di antara para makmum atau tepat di belakang imam adalah para ahli al-Quran lainnya, baik itu dalam hal hafalan dan bacaan. Ini karena posisi mereka akan sangat membantu imam seandainya lupa terhadap beberapa ayat yang dibacakannya dalam salat. Seandianya imam batal di tengah salat, maka yang menggantikan sebagai imam pun juga orang yang bagus bacaannya.

Selanjutnya adalah para ulama, ahli ilmu yang paham tentang sunnah-sunnah Nabi. Keberadaannya di depan, di barisan paling utama, adalah juga penting untuk mengingatkan imam seandainya lupa dalam hal gerakan salat. Orang yang paham sunnah Nabi akan dapat dengan mudah memastikan tata urutan salat dan mampu membetulkannya jika terdapat kekeliruan yang tak disengaja oleh imam.

Selanjutnya adalah kategori orang-orang yang memiliki semangat beragama yang baik dan orang-orang tua yang telah matang, sehingga tidak membuat gaduh jamaah di belakangnya.

Berdasarkan hadis itu, dapat dipahami bahwa pengutamaan seseorang itu bukan karena kekuasaannya, jabatannya, hartanya, atau sejenisnya, melainkan karena keilmuannya.