Sahur itu berkah. Sahur itu ibadah. Itulah yang biasa kita dengar di saat-saat fajar menjelang subuh.

Sahur adalah ibadah yang diinginkan orang dan dibutuhkannya, namun tidak dinanti-nanti kehadirannya. Bahkan, tak sedikit orang yang butuh perjuangan untuk menikmati ibadah ini. Mengingat, pada saat waktu sahur, ternyata rasanya lebih  nikmat untuk tidur daripada untuk makan dan minum.

Beda dengan buka puasa. Ia betul-betul dinanti kedatangannya. Segalanya dipersiapkan sebaik mungkin. Bahkan, bila perlu dibuatkan acara khusus bersama-sama untuk merayakannya. Rasa kebahagiaannya berbeda dengan sahur. Padahal, kegiatan intinya adalah sama-sama makan.

Sahur pun berbeda dari sarapan. Di mana, sarapan juga biasa ditunggu-tunggu. Dibuat senikmat mungkin. Dan rasanya, puas bahagia dan tenang-nyaman saat telah sarapan. Sementara sahur, ia terasa berat. Saat makan sahur, banyak orang tampak tidak sebahagia saat berbuka. Makan pun kadang ogah-ogahan.

Begitulah respon fisik dan psikis kita terhadap pola makan saat puasa. Hal itu pun manusiawi. Semuanya sah-sah saja dalam agama, asalkan tidak berlebihan porsinya.Karena itulah, nabi memotivasi kita dengan keberkahan. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Kita butuh sahur, namun tubuh kita belum siap untuk makan, sehingga keutamaan makan sahur pun menjadi terkalahkan oleh situasi batin yang belum sepenuhnya nyaman setelah tidur serta kondisi tubuh yang masih baru bangkit dari peristirahatan.

Itulah keberkahan. Serba misterius. Ia penuh dengan keutamaan dan kebaikan, namun kita tidak mampu melihatnya. Ia baru akan terasa dalam jangka waktu yang panjang. Sepanjang hari, kita akan berenergi dan kebutuhan tubuh kita tetap terpenuhi meskipun seharian tidak makan dan minum serta tetap beraktifitas penuh seperti biasanya.

Baca Yuk:  Tarhib Ramadhan dan Selamat Ramadhan, Sunnah atau Bidah?

عن أنس بن مالك يقول قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم: تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَحُورِ بَرَكَةً (متفق عليه)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Bersahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Itulah kenapa, Nabi tidak memasukkan sahur sebagai bagian dari farhah (kebhagiaan spesial) bagi orang yang berpuasa. Meskipun kegiatannya sama-sama makan, berbuka lebih menggemberikan karena kondisi tubuh yang sudah sangat siap untuk bersantap. Sedangkan saat sahur, kondisi tubuh masih ingin beristirahat.

Akhirnya, banyak orang yang memilih tidak bersahur, toh masih kuat juga meskipun tidak makan seharian. Namun, Nabi tidak menghendaki demikian. Kemalasan kita jangan sampai mengorbankan kebutuhan fisik kita. Ada perintah puasa yang melarang makan dan minum seharian penuh, namun perintah tersebut bukan berarti merampas hak tubuh. Justru, ia mengaturnya agar selalu berjalan sesuasi dengan sistem yang telah dikehendaki oleh Penciptanya.

Melalui hadis itu, seolah-olah Nabi sedang memotivasi sahabat-sahabatnya untuk bersahur. Ayo, jangan malas-malasan untuk makan. Lawan malasmu dan penuhi kebutuhan tubuhmu, lalu bersahurlah. Demikianlah substansi pesan (khithab) yang dapat ditangkap dari perintah, “bersahurlah, karena sahur itu berkah,” sebagaimana dalam hadis tersebut.
Salah satu keberkahan sahur adalah menjaga pola makan meskipun sedang berpuasa. Jika tidak makan sahur, maka seseorang akan makan hanya satu kali. Sedangkan tubuh kita butuh asupan makanan setidaknya, sebelum dan sesudah beraktifitas padat di siang hari.

Dengan makan sahur pula, kita telah memberikan hak tubuh kita. Pikiran dan hati kita saat bangun tidur, boleh jadi tidak butuh makanan dan minuman. Tapi tubuh kita beberapa jam kemudian akan membutuhkannya pada saat ia telah terlarang untuk menerimanya.

Baca Yuk:  Begini Cara Para Sahabat Agar Khusyuk Beribadah

Jadi, masihkah Anda malas untuk bersahur?

No more articles