Ramadhan Juga Hari Raya, Berkahnya Tak Kan Berkurang

Selama ini yang terbesit di benak kita, ketika disebut hari raya, pikiran kita selalu mengarah kepada Idul Fitri dan Idul Adha. Memang betul, keduanya adalah hari raya tahunan. Namun ternyata ada hari-hari lain yang juga disebut hari raya alias ‘id.

Hari Jumat juga disebut hari raya oleh Nabi. Ini karena pada setiap hari Jumat, umat Islam selalu berkumpul untuk beribadah bersama-sama dengan diawali khutbah.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ» (رواه أبو داود وابن ماجه)

Dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasulullah saw bersabda, “Pada harimu ini terkumpul dua ‘id (hari raya) sekaligus. Siapa yang mau pulang, maka ia telah gugur kewajiban jumatannya. Tapi, kami tetap akan mengadakan jumatan.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Itulah salah satu cara merayakan hari-hari raya secara syar’i. Hari raya apapun sebenarnya boleh dirayakan dengan cara-cara yang syar’I, di antaranya adalah mengadakan tabligh akbar, pengajian umum, pengajian al-Quran, baksti sosial, santunan anak yatim dan fakir miskin, dan keagamaan lain yang bermanfaat.

Selain Jumat, ada hari lain yang juga disebut sebagai ‘id atau hari raya alias hari besar oleh Nabi, yaitu hari-hari bulan Zulhijjah, sebagaimana yang telah lazim adanya.

Ada juga bulan Ramadhan oleh Nabi disebut sebagai hari ‘id. Jadi, bukan hanya hari setelah Ramadhan saja yang disebut sebagai ‘id, melainkan Ramadhan juga disebut sebagai ‘id. Jika setelah berakhirnya Ramadhan disebut idul fitri karena berarti kembali makan-makan, maka Ramadhan disebut sebagai ‘idus shiyam (عيد الصيام), yang berarti hari raya “kembali berpuasa.”

Baca Yuk:  Cara Para Sahabat Melatih Anak-anaknya Berpuasa

Ini karena ‘id sendiri berarti kembali, terulang. Hari yang ditradisikan untuk melakukan kegiatan baik secara bersama-sama dan berulang-ulang alias rutin. Nah, puasa terjadi setiap tahun. Berulang terus, kegiatannya sama setiap tahun dan dilakukan secara bersama-sama. Itulah alasan Ramadhan disebut sebagai ‘id, meskipun tidak populer.

Sumber penyebutan Ramadhan sebagai ‘id adalah hadis Nabi yang disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari (194-256 H) dan Muslim (204-261 H) dalah kitab Shahihnya,

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « شَهْرَا عِيدٍ لاَ يَنْقُصَانِ ». فِى حَدِيثِ خَالِدٍ « شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ ». (رواه البخاري ومسلم)

Abu Bakrah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Ada dua bulan yang tidak akan berkurang [keberkahannya], yaitu dua hari ‘id (dua hari raya). [Dua bulan itu adalah], Ramadhan dan Zulhijah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi Abu Dawud disebutkan,

عَنِ أبي بكرة عن النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ شَهْرَا عِيدٍ لاَ يَنْقُصَانِ رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ ». (رواه أبو داود والترمذي)

“Dua hari raya yang tak pernah berkurang [keberkahannya] adalah Ramadhan dan Zulhijah.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Secara kualitas, sanad hadis tersebut adalah sahih sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum, bahwa riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah sahih sanadnya. Sedangkan riwayat Abu Dawud dan Al-Tirmidzi berkualitas hasan. Namun dari segi otoritas dan kehujahannya, hadis hasan maupun sahih adalah sama.

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna frasa la yanqushani (tidak pernah berkurang), apanya yang tidak berkurang?

Al-Tirmidzi (209-279 H) memaparkan dua pendapat ulama tentang makna frasa tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) memaknainya dengan bilangan harinya. Zulhijjah dan Ramadhan tidak akan pernah berkurang dua-duanya secara bersamaan dalam satu tahun. Pasti hanya salah satu saja yang berkurang dalam satu tahun. Artinya Jika bilangan Ramadhan pada tahun berjalan adalah hanya 29 hari, maka bulan Zulhijjah pasti sempurna 30 hari.

Baca Yuk:  “KITA SEMUA KAFIR!”: Sebuah Edukasi dari Pelayan Nabi

معنى هذا الحديث شهرا عيد لا ينقصان يقول لا ينقصان معا في سنة واحدة شهر رمضان وذو الحجة إن نقص أحدهما تم الآخر

Masih dengan makna bilangan, imam Ishaq (161-238 H)menegaskan bahwa bilangan 29 hari pun sebenarnya adalah bilangan sempurna, utuh, satu bulan penuh. Dengan demikian, menurut pendapat kedua ini dalam satu tahun, kedua bulan tersebut juga dapat berkurang jumlah harinya dalam tahun yang sama.

معناه، وإن كان تسعا وعشرين فهو تمام غير نقصان وعلى مذهب إسحق يكون ينقص الشهران معا في سنة واحدة

Dari pendapat ini, para ulama berkesimpulan bahwa itulah berkahnya kedua bulan tersebut. Meskipun keduanya berkurang menjadi 29 atau bahkan seandainya menjadi 28 hari sekalipun, maka pahalanya tetap sempurna, sama persis seperti halnya jika berjumlah 30 hari.

Itulah indahnya Islam, dalam satu tahun ada banyak sekali hari raya. Hari di mana umat Islam mengadakan tradisi bersama-sama melaksanakan ibadah secara rutin. Itulah hakikat id, sebagaimana pendapat imam Ibnu Taimiyah (661-728 H) dan imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H). Semoga kita selalu mendapatkan keberkahan dari Allah di setiap hari-hari kita. ***