Periwayatan Hadis Dari Jin: Mungkinkah?

Pada dasarnya, alam jin dan alam manusia itu berbeda. Alam manusia itu alam syahadah, sedangkah alam jin itu alam ghaib, jenis jabarut. Manusia pada dasarnya tidak dapat melihat atau menembus alam jin. Namun tidak sebaliknya, atas kehendak Allah, jin diberikan kemampuan untuk melihat dan memasuki alam manusia. Mereka mampu menjelma sebagai makhluk yang ada di alam syahadah (tampak, terlihat, kasat mata).

Meski berbeda alam, manusia dan jin memiliki kesamaan dalam beberapa hal, di antaranya adalah keduanya memerlukan makan dan minum. Mereka juga memerlukan perkawinan. Mereka juga beranak pinak. Mereka juga memerlukan ilmu dan informasi, sehingga antar satu sama lain saling bertukar informasi. Mereka juga ada yang taat dan ada pula yang membangkang. Semua itu tergambar jelas dalam beberapa ayat al-Quran, terutama dalam surah al-Jinn.

Manusia dan jin dari alam yang berbeda itu juga pada dasarnya dapat saling berinteraksi satu sama lain. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Jinn. Di antara manusia ada yang meminta perlindungan kepada jin. Demikian pula ada sekelompok jin yang belajar Islam dari Nabi. Interaksi tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah karena jin menjelma sebagai manusia, atau karena manusia yang mengolah inderanya secara optimal sehingga dapat melihat jin.

Kisah yang paling populer terkait dengan interaksi positif antara manusia dengan jin adalah kisah Nabi Sulaiman. Kisah tentang Nabi Muhammad yang juga diutus untuk menyampaikan risalah Islam kepada jin juga sangat populer dan menjadi keyakinan umat Islam.

Jika ada kisah sahih yang menyatakan bahwa jin juga belajar dari Nabi Muhammad, berarti ada beberapa sahabat Nabi  yang berasal dari jenis jin. Ini akan sangat menarik. Lalu, apakah jin yang belajar dari Nabi itu meriwayatkan hadis yang ia dengar dari Nabi hanya kepada sesama jin saja, atau juga kepada manusia? Berikut adalah ulasan pada ulama.

Al-Suyuti (w. 911 H) dan Ibnu Nujaim adalah di antara para ulama yang mengkaji masalah periwayatan hadis dari jin kepada manusia, atau dari manusia kepada jin. Dalam kitab al-Asybah wan-Nazha’ir, al-Suyuti menyebutkan,

Baca Yuk:  Hadis Nabi tentang Makan Kenyang

تَجُوزُ رِوَايَةُ الْجِنِّ عَنِ الإِنْسِ مَا سَمِعُوهُ مِنْهُمْ ، أَوْ قُرِئَ عَلَيْهِمْ وَهُمْ يَسْمَعُونَ ، سَوَاءٌ عَلِمَ الإِنْسُ بِحُضُورِهِمْ أَمْ لا . لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ } الآيَاتِ ، وَقَوْلُهُ : { وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ قَالُوا يَا قَوْمَنَا . . . } فَإِذَا جَازَ أَنْ يُبَلِّغُوا الْقُرْآنَ جَازَ أَنْ يُبَلِّغُوا الْحَدِيثَ . وَكَذَا إِذَا أَجَازَ الشَّيْخُ مَنْ حَضَرَ أَوْ سَمِعَ دَخَلُوا فِي إِجَازَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ ، كَمَا فِي نَظِيرِ ذَلِكَ مِنَ الإِنْسِ . وَأَمَّا رِوَايَةُ الإِنْسِ عَنْهُمْ : فَقَالَ السُّيُوطِيُّ : الظَّاهِرُ مَنْعُهَا ، لِعَدَمِ حُصُولِ الثِّقَةِ بِعَدَالَتِهِمْ

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa benar adanya dan mungkin sekali terjadi periwayatan jin dari manusia. Jin bisa saja meriwayatkan dari manusia, dari para periwayat hadis, baik itu secara sama’i, maupun secara qira’atan. Jin sangat mungkin hadir di majelis-majelis periwayatan hadis yang diselenggarakan oleh manusia.

Sedangkan periwayatan manusia dari jin adalah hal yang mungkin. Namun, dalam konteks periwayatan hadis, al-Suyuti dan juga para ulama hadis lainnya menegaskan agar tidak perlu dipercaya.  Ia bukanlah hal yang mustahil karena manusia dapat berinteraksi dengan jin. Kata, man’uha dalam teks di atas adalah berarti “terlarang.” Artinya, meskipun mungkin terjadi, hal itu adalah terlarang. Ini karena jin tidak dapat dipastikan ‘adalah-nya. Mereka tidak dapat diketahui kredibilitas dan intelektualitasnya.

Oleh karena itu, nyaris tidak dapat dijumpai adanya riwayat dari jin dalam kitab-kitab hadis, meskipun dalam daftar kitab Rijal Hadis, nama-nama jin dapat kita jumpai dengan mudah. Kisah-kisah yang disampaikan oleh para ulama hadis dalam kitab mereka juga tidak ada yang berkenaan dengan hadis yang bersumber dari Nabi, melainkan pada umumnya berisi kisah-kisah dialogis di antara mereka, seperti saling bertegur sapa mengucapkan salam.

Lebih tegas lagi dalam kitab al-Khasha’is al-Kubra, al-Suyuti juga membuat sebuah judul bab tentang ini,

باب إخباره صلى الله عليه وسلم بكذابين في الحديث و شياطين يحدثون

“Bab Berisi Kabar Nabi Tentang Para Pendusta Dalam Periwayatan Hadis dan Setan-setan yang Meriwayatkan Hadis.”

Dalam bab tersebut, al-Suyuti mengutip sebuah hadis Nabi yang memperingatkan tentang kode etik periwayatan hadis,

Baca Yuk:  Beginilah Marahnya Rasulullah

أخرج مسلم عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :  سيكون في آخر أمتي ناس يحدثونكم بما لم تسمعوا أنتم و لا آباؤكم فإياكم و إياهم.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Akan ada di akhir masa umatku, orang-orang yang meriwayatkan kepada kalian hadis-hadis yang tidak pernah kalian dengar, juga tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian (dariku). Waspadalah terhadap diri kalian, dan waspadailah mereka!” (HR. Muslim)

عن واثلة بن الاسقع قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تقوم الساعة حتى يطوف إبليس في الأسواق و يقول حدثني فلان ابن فلان بكذا وكذا.  (رواه ابن عدي والبيهقي)

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum iblis berkeliling di pasar-pasar dan mengatakan,Si Polan meriwayatkan hadis kepada ku seperti ini dan seperti itu.” (HR. Ibnu Adi dan al-Baihaqi)

و اخرج عن ابن مسعود قال : إن الشيطان ليتمثل في صورة الرجل فيأتي القوم فيحدثهم بالحديث من الكذب فيتفرقون

Ibnu Mas’ud juga mewanti-wanti bahwa setan akan menjelma dalam rupa seseorang, lalu mendatangi sekelompok orang untuk menyampaikan hadis palsu kepada mereka sehingga mereka saling bertikai.

و أخرج البخاري في تاريخه و البيهقي عن سفيان قال حدثني من رأى قاصا يقص في مسجد الخيف فطلبته فإذا هو شيطان.

Al-Bukhari dan al-Baihaqi juga mengingatkan dari Sufyan bahwa ia pernah kedatangan seorang tukang cerita di masjid Khaif yang menyampaikan sebuah hadis. Setelah diselidiki, ternyata dia adalah setan.

Dengan demikian, jika kita masih setuju dengan pendapat ahli hadis dan kaidah periwayatan hadis, maka sikap kita terhadap periwayatan hadis dari jin adalah menolaknya. Kita tidak menerimanya karena sulit dibuktikan melalui pendekatan ilmu riwayat hadis. Meskipun matan dan kandungannya sangat baik, alangkah sangat bijaknya jika kita tetap tidak mengatakannya sebagai hadis Nabi. Hadis Nabi tidak boleh didasrkan asumsi apalagi sekedar berspekulasi. Karena, ia adalah wahyu yang suci. Wallahu a’lam.