Hadis-hadis yang ditulis pasca wafatnya Nabi disusun generasi awal dalam shahifah para sahabat dan tabi’in, dan mulai generasi selanjutnya disusun mushannaf berdasarkan topik tertentu. Ada beberapa catatan dalam himpunan-himpunan hadis tersebut, tentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada.

Sebagai contoh, mushannaf kerap tidak mencantumkan sanad secara lengkap, dan jumlah hadis yang dimuat sesuai dengan domisili para penyusunnya. Sebuah problem muncul ketika otoritas hukum membutuhkan hadis-hadis yang bisa dipertanggungjawabkan. Terlebih ajaran Islam yang menyebar ke berbagai negeri, membuat para ulama setempat perlu menelusuri hadis-hadis yang sah digunakan sebagai dasar hukum.

Hadis-hadis yang tanpa sanad, tentu diragukan: benarkah ini yang disampaikan dan diajarkan Nabi? Hal ini dirasakan oleh utamanya kalangan ahlul hadits, salah satunya Imam As Syafi’i, seorang imam mazhab yang nantinya disebut sebagai nashirus sunnah (penyelamat sunnah) berkat kontribusi beliau atas perkembangan ilmu hadis.

Muncul satu konsepsi untuk menyusun kitab hadis berdasarkan sanadnya secara lengkap. Dari latar belakang ini kitab musnad lahir, guna meneguhkan posisi hadis sebagai sumber hukum Islam. Melalui pencantuman sanad, ajaran Nabi Muhammad bisa dilacak otoritasnya. Dengan demikian, kitab hadis musnad adalah kitab hadis yang menghimpun hadis beserta sanadnya dari tingkat sahabat.

Selain menjauhkan peluang pemalsuan hadis, pencantuman sanad juga digunakan untuk melacak periwayatan hadis. Suatu riwayat hadis yang tidak hanya disampaikan oleh satu sanad, akan meneguhkan kualitas hadis yang diriwayatkan suatu sahabat atau tabiin.

Salah satu kitab musnad paling awal adalah musnad yang dihimpun Imam Abu Dawud at Thayalisi (wafat 204 H), yang semasa dengan Imam as Syafii. Di kalangan masyarakat muslim, kitab musnad yang paling populer adalah Musnad Ahmad bin Hanbal, yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal, salah seorang imam mazhab yang juga merupakan salah satu murid Imam As Syafii.

Baca Yuk:  Ini Doa Berbuka Puasa

Banyak sekali kitab-kitab musnad yang disusun oleh para ulama. Beberapa bisa kita sebut seperti Musnad al Humaidi, Musnad Al Bazzar, atau dari kalangan murid Imam Abu Hanifah, ada Musnad Abu Ya’la al Mawshili, dan masih banyak lainnya.

Ada beberapa variasi penyusunan musnad. Namun yang paling menonjol dari musnad adalah pencatatan riwayat hadis dengan sanad dari salah satu sahabat, kemudian perawi setelahnya. Demikian berlanjut dalam setiap bab. Dalam musnad, pengulangan hadis dari sanad lainnya kerap terjadi. Justru dengan hadis-hadis dari jalur lain akan saling menguatkan kualitas suatu hadis.

Beberapa kritik yang muncul kepada musnad adalah ada hadis-hadis yang dianggap memiliki cacat (‘illat) baik dalam sanad maupun matan. Kembali ke latar belakang kemunculan musnad di atas, pencantuman hadis dengan sanad salah satunya untuk mengurangi arus pemalsuan hadis serta menguatkan kualitas hadis yang dihimpun.

Dengan demikian hadis-hadis yang tidak dapat ditelusuri sanadnya, dapat diragukan kesahihannya untuk kemudian ditelusuri para perawinya. Berkat model kitab musnad inilah, model periwayatan hadis dengan sanadnya menjadi sebuah tren dan model periwayatan hadis untuk memastikan sebuah hadis benar dari Nabi atau tidak. Wallahu a’lam.

No more articles