Bagaimana Memahami Hadis Melalui Pendekatan Majas?

Dalam peta kajian hadis, semua yang dituturkan Nabi Muhammad Saw terbagi menjadi dua bagian ; ada yang menggunakan redaksi perkataan yang langsung dipahami karena kejelasan maknanya, ada pula yang membutuhkan pemahaman menggunakan perangkat keilmuan lain untuk memahaminya, salah satunya adalah pemahaman hadis melalui pendekatan ilmu balaghoh, khususnya pada kajian majas.

Majas secara istilah adalah penggunaan kata atau kalimat yang berbeda dengan makna aslinya dikarenakan alasan yang menghalanginya untuk dimaknai secara hakiki dengan dibarengi padanan kata yang mendukungnya untuk dimaknai secara tidak hakiki.

Dari pengertian di atas kita memetik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan memahami hadis melalui pendekatan majas adalah memahami dengan benar bahwa dalam beberapa sabdanya terkadang Nabi menggunakan pemahaman yang mengandung pengandaian atau majas.

Dan atas dasar itu kita perlu menelitinya secara sungguh-sungguh.

Contohnya adalah hadis dari Aisyah yang menyebukan bahwa suatu hari Rasulullah Saw bersabda bahwa yang paling dahulu menyusulnya wafat adalah yang paling panjang tangannya.

Seketikaitu para isteri Nabi mengukur tangan mereka hingga salah seorang dari mereka, Zainab binti Jahsy, meninggal dunia. Dari sana akhirnya dipahami bahwa yang dimaksud dengan yang paling panjang yangannya adalah yang gemar bersedekah. Zainablah orangnya.
Hadis tersebut direkam oleh Imam Hakim dalam Mustadrak dengan redaksi sebagai berikut :

قالت عائشة: “فكنا إذا اجتمعنا في بيت إحدانا بعد وفاة رسول الله (صلى الله عليه وسلم) نمد أيدينا في الجدار نتطاول، فلم نزل نفعل ذلك حتى توفيت زينب بنت جحش، وكانت امرأة قصيرة ولم تكن أطولنا، فعرفنا حينئذ أن النبي (صلى الله عليه وسلم) إنما أراد بطول اليد الصدقة، وكانت زينب امرأة صانعة باليد، وكانت تدبغ وتخرز وتتصدق في سبيل الله”.

Baca Yuk:  Ini Kriteria Hadis yang Lemah Banget

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sedikit peringkasan riwayat. Imam Bukhari dalam hal ini memasukkan hadis ini ke dalam bab seputar keutamaan Zainab binti Jahsy.

Tutur kata Nabi yang mengandung majas ini tak bisa dipahami sebagaimana zhahirnya. Usai diteropong melalui pendekatan ilmu balaghoh, pada bab majas, akhirnya dipahami bahwa yang dimaksud dengan tangan yang panjang adalah seorang yang rajin menginfakkan hartanya. Bukan yang memang benar panjang tangan fisiknya.

Ibnu Hajar al-Asqolani dalam Fathul Bari mengatakan :
“وفي الحديث علم من أعلام النبوة ظاهر، وفيه جواز إطلاق اللفظ المشترك بين الحقيقة والمجاز بغير قرينة

Dalam hadis ini terungkap salah satu risalah kenabian (memprediksi yang akan datang), dan dalam hadis tersebut juga diketahui dibolehkannya secara mutlak pencantuman lafazh yang musytarak (bermakna lebih dari satu) yang memuat pemahaman hakiki dan majaz (metamorfosa/tidak hakiki).

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa tatkala dilakukan pemeriksaan siapa tangan paling panjang dari isteri-isteri Nabi maka terpilihlah Saudah. Akan tetapi tatkala diketahui bahwa yang wafat pasca Nabi adalah Zainab maka mereka memahami bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan adalah yang paling banyak sedekahnya.

Menurutnya, para ahli bahasa Arab sepakat bahwa jika dikatakan seseorang bertangan panjang maka artinya ia dermawan, demikian sebaliknya.

Hal ini tentu tak bisa kita lepaskan dari konteks kajian kebahasaan tempat Nabi hidup. Kalimat majas adalah salah satu bentuk kekayaan dalam aktivitas berbahasa. Langkah yang harus ditempuh menuju pemahaman hadis yang maksimal adalah, salah satunya, dengan belajar ilmu-ilmu lain yang bisa menopang pemahaman hadis itu sendiri, salah satunya melalui pendekatan majas.

Dan ingat, dan perlu digarisbawahi, karena bahasa merupakan bagian dari sebuah budaya, maka setiap budaya memiliki istilah berbeda dalam penggunaan majas. Dalam konteks Indonesia, yang dimaksud dengan panjang tangan adalah mereka yang mencuri.

Baca Yuk:  Sanad-Sanad yang Sahih dan Dhaif

Maka, memahami hadis dari segi ilmu tata bahasa Arab merupakan langkah yang tepat. Hal demikian menimbang kapasitas dan kedudukan Nabi sebagai masyarakat Arab.

Wallahu Alam