Metode Imam As Sakhawi Meneliti Hadis Populer

Al Maqashidul Hasanah adalah salah satu karya penting dalam bidang penelitian hadis. Metodologi yang dikembangkan penyusunnya, Imam As Sakhawi, dianggap khas dan melengkapi kitab-kitab takhrij serupa semasanya.

Ada baiknya kita mengenal dahulu profil penyusun kitab ini. Imam as Sakhawi memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad as Sakhawi. Sosok yang dilahirkan pada bulan Rabiul Awal tahun 831 H ini bermazhab Syafi’i, dan menghabiskan masa muda di Kairo, Mesir. As Sakhawi wafat di Madinah pada 902 H, dimakamkan berdekatan dengan Imam Malik bin Anas di Pemakaman Baqi.

Guru-gurunya tercatat sebagai sosok yang memiliki pengaruh saat itu di Mesir. Dalam bidang hadis, selain mencari ilmu di Mesir, Imam As Sakhawi juga mendapatkan riwayat dari para ulama Mekkah dan Madinah.

Apa yang dimaksud dengan hadis masyhur dalam kitab yang berjudul lengkap Al Maqshidul Hasanah fi Bayani Katsir minal Ahadis al Musytaharah ‘alal Alsinah ini?

Perlu diperhatikan bahwa hadis yang dicatat dalam kitab ini bukan hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih namun tidak mencapai taraf mutawatir, sebagaimana definisi teknis dari hadis masyhur berdasarkan jumlah perawi. Masyhur dalam karya As Sakhawi tersebut dipahami secara literer, yaitu “hadis-hadis populer”.

Tujuan As Sakhawi, sebagaimana disebutkan dalam pengantar kitab, adalah untuk menelusuri hadis-hadis yang ia dapatkan dari gurunya, maupun yang banyak disampaikan masyarakat. Imam As Sakhawi menyusun kitab Al Maqashidul Hasanah ini dalam dua bagian:

Pertama, melakukan penyusunan lafal matan yang ada, baik sebagian ataupun keseluruhan, berdasarkan huruf hijaiyah. As Sakhawi membuka bab pertama dengan lafal kata pada hadis populer yang didahului huruf hamzah atau alif, hingga berakhir pada huruf ya’.

Kedua, As Sakhawi menyusun hadis populer pada bagian kedua dengan melakukan klasifikasi hadis yang sudah dicatat pada bagian pertama berdasarkan bab dan tema. Tujuan menyusun berdasarkan tema ini adalah untuk orang yang mengetahui agar memerhatikan tema-tema hadis tersebut berdasarkan urgensinya (lil ‘arif min akbaril muhimmat).

Baca Yuk:  Kaidah-Kaidah Keotentikan Hadis (1)

Metode penelusuran hadis As Sakhawi dalam Al Maqashidul Hasanah bisa disimpulkan sebagai berikut: setelah mengetahui suatu hadis populer, seorang peneliti mencari lafal yang serupa terlebih dahulu dari berbagai sumber yang ada. Kemudian, beranjak ke redaksi yang memiliki kecocokan dengan redaksi tersebut, utamanya dalam kitab-kitab hadis primer.

Selanjutnya adalah mencari hadis pendukung tersebut serta sanad-sanad lain yang ada dalam berbagai kitab hadis. Setelah takhrij tersebut dilakukan dengan melacak berbagai sumber, hadis populer bisa digolongkan sesuai temanya.

Jika tidak ditemukan redaksi matan yang dimaksud, maka matan hadis ditelusuri kesesuaiannya dengan Al Quran, kitab-kitab tafsir tertua, kisah dalam kitab, syair-syair, serta kutipan-kutipan lainnya yang sesuai atau mendukung isi hadis populer yang diteliti oleh As Sakhawi.

Sebagai contoh, berikut salah satu hadis populer yang dicatat dalam harful Hamzah dalam bagian pertama berdasarkan susunan huruf hijaiyah:

حديث: آية من كتاب الله خير من محمد وآله،

 لم أقف عليه، وكذا فيما قيل شيخي من قبلي، ولكن قد رأيته بخط بعض طلبته من أصحابنا في هامش تسديد القوس مجردا عن العزو والصحابي، وذلك لا أعتمده من مثله، وزاد فيه: لأن القرآن كلام الله غير مخلوق.

Lafal tersebut dimulai dengan huruf hamzah. As Sakhawi menyebutkan tidak menemukan sumber dengan redaksi tersebut. Namun ia mengaku mendengar dari gurunya, serta melihatnya dalam catatan kitab Tasdidul Qaus milik rekan-rekannya. Ia juga menemukan redaksi tambahan dari catatan tersebut.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ketika tidak ditemukan redaksi hadis yang populer itu, As Sakhawi merujuk pada keterangan lain meskipun bukan dari kitab hadis.

نعم في فضائل القرآن من جامع الترمذي من حديث الحميدي قال: قال لنا سفيان بن عيينة في تفسير حديث ابن مسعود: ما خلق الله سبحانه من سماء ولا أرض أعظم من آية الكرسي: آية الكرسي كلام الله وكلام الله أعظم خلق الله من السماء والأرض،

Baca Yuk:  Macam-Macam Hari Raya dalam Hadis Nabi

Setelah mengaku belum menemukan redaksi tersebut, as Sakhawi mengutip redaksi lain yang kiranya memiliki makna serupa dari Sunan at Tirmidzi dan Musnad al Humaidi, dengan menyebutkan sanad dari Sufyan bin Uyainah hingga Ibnu Mas’ud.

Sebenarnya keterangan ini masih lebih panjang, Anda bisa merujuk ke kitabnya. Hadis dengan lafal dan tema yang mirip dengan di atas tercatat juga di Mu’jam al Kabir karya Imam at Thabrani, dan menyebutkan status sanad yang bersumber dari Ibnu Mas’ud.

Pada contoh bagian kedua kitab, Imam as Sakhawi dalam bagian kedua kitab hanya menyebutkan hadis-hadis yang sudah disusunnya dalam bagian pertama, tanpa menjelaskan matan, sanad, serta sumber sebagaimana bagian pertama. Dalam bagian kedua ini as Sakhawi mengelompokkan berdasarkan tema hadis.

Hadis (آية من كتاب الله خير من محمد وآله) tercatat dalam bab Fadlailul Qur’an wad dzikr was shalawat. Dengan demikian, as Sakhawi tidak menyebutkan penjelasan sebagaimana di bagian pertama yang berdasarkan huruf.

Kurang lebih demikian metode penelusuran hadis Imam As Sakhawi dalam Al Maqshidul Hasanah. Metode ini bisa Anda gunakan untuk mengecek hadis-hadis populer yang mungkin banyak Anda temui di buku dan ceramah, atau tentunya, riset tentang hadis yang lebih lanjut.