Akhir-akhir ini kita sering menemukan hadis-hadis yang bertebaran di dunia maya. Beberapa bahkan divonis sebagai hadis palsu. Hadis-hadis palsu tersebut muncul dalam berbagai hal, mulai saat terjadinya kejadian-kejadian keagamaan tertentu, seperti rajab, ramadhan dan lain sebagainya, hingga karena kepentingan-kepentingan politik tertentu.

Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dalam As-Sunnah Qabla At Tadwinnya menceritakan secara rinci kronologi munculnya Hadis-Hadis palsu pada zaman itu. Bermula pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berdampak pada mengkristalnya instabilitas politik antara kedua golongan, yakni Ali bin Abi Thalib yang didukung penuh oleh masyarakat Hijaz dan Irak serta Muawiyah yang didukung oleh masyarakat Mesir dan Syam.

Ketegangan antara kedua termanifestasi dalam perang Siffin yang berujung pada peristiwa Arbitrase (tahkim). Kesepakatan dilaksanakannya tahkim sendiri telah menimbulkan perpecahan dalam kelompok-kelompok Islam. Mulai munculnya Khawarij, Syiah (pro Ali) dan golongan Pro Muawiyah.

Dipercaya atau tidak, ketiga golongan ini sebenarnya muncul atas landasan politik. Hal ini terbukti dari asal muasal berdirinya, yakni peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali yang merupakan proses perebutan hak-hak politik.

Kemunculan tiga golongan inilah yang menjadi asal muasal munculnya Hadis-Hadis palsu yang digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan mereka. Muncullah Hadis-Hadis palsu tentang kelebihan dan keutamaan khulafa ar-rasyidin, kelebihan-kelebihan kelompok tertentu, kelebihan-kelebihan ketua-ketua partai, bahkan muncul pula Hadis-Hadis yang secara tegas mendukung aliran-aliran politik dan kelompok-kelompok agama tertentu.

Masa-masa instabilitas politik saat itu sebenarnya disebabkan adanya hoax berupa hadis-hadis palsu yang telah terdistribusikan dengan sangat masif. Baik melalui mulut ke mulut, maupun dari mimbar-mimbar ceramah. Jika bisa dikategorikan, penyebaran hoax berupa hadis-hadis palsu tersebut bisa dilakukan oleh perorangan; kelompok.

Baca Yuk:  Sejarah Istilah Hadis

Dalam karyanya yang berjudul al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadis as-Syarif, Sayyid Alawi al-Maliki menjelaskan beberapa faktor dibuatnya hadis-hadis palsu: pertama, mempertahankan kepentingan pribadi; kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan); ketiga, mencari rizki; keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah; kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama.

Di sisi lain, Ajaj al-Khatib menambahkan beberapa tujuan penggunaan Hadis palsu, di antaranya: politik, diskriminasi etnis dan kabilah, serta kepentingan mengunggulkan mazhab fikih maupun kalam.

Faktor dan tujuan sebagaimana disebutkan di atas merupakan hal yang sebenarnya terjadi dan benar-benar ada di antara hal-hal yang melatarbelakangi munculnya hoax. Khususnya yang terjadi sekarang, sebagaimana dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam namun penyebar hoax seperti sekarang.

Ajaj al-Khatib dan Sayyid Alawi al-Maliki sendiri memiliki pandangan sama terkait orang-orang yang melakukan pemalsuan Hadis untuk mengajak kepada kebaikan. Namun, bagaimanapun juga yang dilakukan tetaplah tidak benar karena menghalalkan segala cara termasuk berbohong atas nama nabi. Hal ini sebagaimana penyebaran berita hoax yang sering kita temukan untuk memotivasi spirit keagamaan seseorang. Tentu cara-cara seperti ini tidaklah benar.

Setelah muncul beberapa fitnah disebabkan adanya penyebaran hadis palsu tersebut, para ulama’ melakukan seleksi ketat untuk memilah-memilih “hadis” yang memang benar-benar hadis. Mujahadah para ulama’ menelurkan karya keilmuan yang luar biasa dan bisa kita pelajari hingga sekarang. Di sisi lain, Al-Quran dan Hadis juga telah banyak menjelaskan terkait etika dan langkah menerima maupun menyebarkan berita.

Tentu sebagai muslim yang baik, kita tidak lantas membenarkan segala perilaku orang yang mengatasnamakan Islam tapi perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Karena kita tidak ingin, konflik yang pernah terjadi akibat pemalsuan hadis, kembali terjadi hanya karena ulah sebagain orang yang memanfaatkan Islam sebagai tunggangan kepentingannya.

No more articles