Memahami Hadis Berdasarkan Illatnya

Hadist adalah kalam atau nabi yang berisi perintah dan larangan atau yang semakna dengan keduanya. Sehingga dalam kajian hadist, perintah dan larangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari Illat. Karena dengan Illat, hukum dari sebuah hadist dapat di pahami secara benar begitupun juga dengan hukum yang lain dapat diqiyaskan dengan Illat dari hadist tersebut.

Imam Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam Fi usul Al-Ahkam mendefinisikan illat sebagai berikut :

الوصف الظاهر المنضبط المعرف للحكم، أو ما يلزم من وجوده الوجود ومن عدمه العدم

Artinya, “Sifat dhohir yang membuat suatu hukum dapat diketahui atau penyebab dari ada dan tidak adanya suatu hukum.”

Illat yang dimaksud disini bukanlah Illat dalam ilmu Musthalah al-Hadist atau yang disebut illat/muallal, melainkan Illat yang dimaksud adalah Illat dalam kajian Ushul Fikih.

Adapun dalam pembagiannya, illat dibagi menjadi dua. Pertama, Illat Al- Mansusoh, yakni Adanya Illat ini berdasarkan hal-hal yang telah tertulis dalam Al-qur’an dan Hadist. Kedua, Illat Al- Musthanbatoh, yaitu Illat yang dihasilkan oleh para mujtahid melalui proses ijtihadnya.

Menurut Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub dalam kitab at-Thuruq as-Shahihah fi Fahmi Sunnah an-Nabawiyyah, secara umum illat al-Manshusah tidak akan menyebabkan perbedaan pendapat di antara para ulama’. Hal ini berbeda dengan illat mustanbatah, dikarenakan tidak disebutkan secara gamblang illatnya dalam badan nash.

Pertama, Contoh illat manshushah dalam hadis bisa kita lihat dari hadis riwayat Bukhari tentang minuman yang memabukkan.

كل شراب أشكر فهو حرام

Artinya, “setiap minuman yang memabukkan adalah haram.”

Atau dari riwayat  Muslim dan Abi Dawud:

كل مسكر خمر وكل مسكر حرام

Baca Yuk:  Hadis Maudlu': Dilarang Memalsukan Hadis-Hadis

Artinya, “Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

Juga dari riwayat Abi Dawud:

كل مسكر خرام وما أسكر منه الفرق فملأ الكف منه حرام

Artinya, “Setiap yang memabukkan adalah haram. Minuman yang ketika banyak kadarnya haram, maka seisi telapak tanganpun haram.”

Dari dua hadis di atas bisa disimpulkan bahwa dalam hal ini, yang menjadi illat adalah memabukkan. Dan semua ulama pun sepakat akan hal ini, mengingat illat dalam hadis tersebut adalah illat yang manshushah.

Namun terkadang para ulama berbeda pendapat terkait illat al-manshushah jika ada perbedaan riwayat dalam hadist tersebut. Sebagian ulama terkadang menggunakan hadis yang menyebutkan illatnya, sedangkan ulama yang lain menggunakan hadist yang tidak menyebutkan illatnya.

Misalnya dalam hadis terkait menyerupai kaum musyrik berikut ini:

خالفوا المشركين أحفوا الشوارب وأوفوا اللحي

Artinya, “Berpenampilanlah berbeda dari kaum musyrik, cukurlah kumis dan biarkan lah jenggot.”

Kalau kita hanya mengacu pada hadis tersebut seolah-olah cukup jelas bahwa yang menjadi illat adalah berbeda dengan kaum musyrik, yang pada saat itu mereka memelihara kumis. Sehingga dianjurkan untuk mencukur kumis agar berbeda.

Namun ada juga hadis lain tanpa menyebutkan kata “berbeda dari kaum musyrik”. Sehingga ada sebagian ulama yang mewajibkan menumbuhkan jenggot dan mencukur kumis. Bahkan hadis tersebut menurut as-Suyuthi Sahih.

قصوا الشوارب وأعفوا اللحي

Artinya, “Cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot.”

Inilah yang kami maksud, walaupun illatnya manshusah namun ulama berbeda pendapat karena berbeda periwayatan. Maka dari itu dalam menggunakan hadis tidak dianjurkan untuk menggunakan hadis yang sepotong-potong. Diharuskan mentakhrij agar mendapatkan riwayat hadis secara komprehensif.

Kedua, contoh illat mustanbathah.

Baca Yuk:  Kritik Matan Adalah Pondasi Kritik Sanad Hadis

لا يصلين أحد العصر الا في بني قريظة

Artinya, “Janganlah sekali-kali seorang shalat ashar kecuali di Bani Quraizah.”

Dalam memahami hadis di atas ada dua pendapat yang berbeda dikalangan para sahabat, yakni  Ahlu Adz-Dzohir dan Ashab Ar-Ro’yi Wal Qiyas.

Ahlu adz-Dzohir meyakini bahwa pemahaman dari hadist tersebut adalah bahwa sholat ashar harus diakhirkan dan dilaksanakan di Bani Quraidzah, karena mereka melihat dhohirnya lafadz hadist.

Sedangkan menurut Ashab Ar-Ro’yi Wal Qiyas, bahwa mereka tetap harus sholat ashar di jalan karena waktu ashar akan habis ketika sudah sampai di Bani Quraidzah. Mereka melihat makna atau tujuan dari hadis tersebut adalah agar mereka segera sampai di Bani Quraidzoh.

Dari beberapa penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa memahami Illat dalam Hadis adalah sebuah komponen yang tidak bisa dipisahkan dari Fiqh al-Hadis (memahami hadis). Ketidakmampuan dan kedangkalan dalam mengetahui illat dapat membuat seseorang menjadi konservatif, tekstualis dan kejumudan dalam memahami Hadis. Wallahu A’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Tinggalkan Balasan