Kualitas Hadis Wiridan Surah Mu’awwidzat Tujuh Kali Setelah Jumatan

Dalam tradisi muslim di banyak daerah di Indonesia, sebut saja misalnya di daerah Jombang Jawa Timur, Kediri Jawa Timur, Jakarta, Banten, bahkan hingga Fakfak Papua Barat, kami menjumpai kebiasaan yang sama setiap selesai menjalankan ibadah shalat Jumat. Yaitu, membaca surah al-Fatihah, al-Ikhlas, Alfalaq, dan Annas, masing-masing sebanyak tujuh kali berturut-turut. Kebiasaan itu telah berlangsung sejak lama sekali, entah kapan awal mulanya.

Belakangan, seorang kawan bertanya tentang asal muasal kebiasaan tersebut. Apakah Nabi atau minimal sahabat juga melakukannya? Pertanyaan itu rupanya berawal dari bacaannya terhadap salah satu kitab yang menukil riwayat Ibnu Sunni (280-364 H) dan Ibnu Syahin (297-385 H) yang seringkali dirujuk untuk pedoman amalan harian umat Islam. Namun, sayangnya keterangan tersebut menunjukkan bahwa hadis yang dijadikan sandaran wiridan tersebut sangat lemah sekali, dla’if syadid jiddan.

Ibn Taymiyah (661-728 H) dan beberapa mufti Saudi Arabia juga mnyatakan demikian. Benar, karena memang dalam riwayat yang populer dalam kitab-kitab takhrij, hadis tersebut diriwayatkan oleh seorang yang bernama al-Khalil bin Murrah. Oleh al-Bukhari, Khalil ditetapkan sebagai orang yang sangat lemah, munkar al-hadis. Karena itu, hadisnya mencapai tingkatan munkar, sangat lemah dan tidak dapat naik kepada hasan lighairih.

 Bahasa praktisnya, wiridan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam hadis Nabi, alias bidah, karena didasarkan kepada hadis yang sangat lemah dan tidak laik pakai karena matruk. Memang, jika yang dijadikan rujukan adalah kitab al-Adzkar, ataupun Amal al-Yuam wa al-Lailah, atau kitab-kitab dzikir lainnya, pasti akan didapati hadis tersebut berasal dari Ibn al-Sunni yang berkualitas lemah sekali.

Imam Nawawi (631-676 H) adalah trmasuk orang yang sangat mengagumi dan banyak sekali mengutip riwayat Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (Amalan Sehari Semalam) untuk penulisan kitab yang serupa, yaitu al-Adzkar (Kumpulan dzikir-dzikir). Dalam kitab Ibnu Sunni, hadis tersebut tercatat berkualitas sangat lemah. Ia menyadari bahwa dalam buku Ibn al-Sunni itu banyak sekali hadis yang lemah. Ia tegaskan dalam mukadimah al-Adzkar-nya, bahwa hal itu masih tetap laik pakai.

Menganai hadis tentang wiridan surah-surah mu’awwidzat sebanyak tujuh kali ini, ada satu hadis yang jarang sekali diekspos karena kitabnya yang tergolong jarang diakses oleh masyarakat luas. Betul memang sanad hadis yang sering dikutip oleh para ulama ketika memberi fatwa tentang tradisi ini sangat lemah, jika yang dikutip hanya dari dua literatur itu saja, atau jika hanya yang berasal dari riwayat al-Khalil bin Murrah.

Baca Yuk:  Hadis Membunuh Cicak, Benarkah Sunnah?

Namun, yang menarik adalah, ketika Ibn Hajar, mengomentari hadis ini, beliau justru menyatakan statemen yang sangat bijak. Sanad hadis ini lemah, namun memiliki riwayat pendukung, syahid, dari utusan Makkhul. Hadis yang menjadi penguatnya adalah hadis Sa’id bin Mansur dalam Sunan-nya dari Faraj, dari Fudlalah.

Dalam riwayat ini, ada tambahan “Fatihatul Kitab” di bagian awal hadis, kemudian di bagian akhirnya juga terdapat tambahan, “Kaffarallah ‘anhu ma baynal Jum’atayn.” Namun sayang sekali, Faraj juga ditetapkan sebagai orang yang lemah oleh Ibn Hajar. Lengkap sudah kedlaifan hadis ini. Keterangan ini dikutip dari al-Minawi dalam Faidlul Qadir Syarh Jami’ Shaghir.

Ternyata, ada hadis sahih tentang ini, yang tidak diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dan Ibnu Syahin. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (159-235 H) dalam Mushannaf dan al-Baihaqi (384-458 H) dalam Syu’ab al-Iman. Sanad Riwayat al-Bayhaqi, sama persis dengan sanad Ibnu Abi Syaibah. Tentu kalau begitu, sanad Ibn Abi Syaibah lebih pendek (‘ali). Namun redaksi matan keduanya ada sedikit perbedaan. Meski demikian, sama sekali tidak berpengaruh karena maknanya masih sama.

Berikut adalah kedua riwayat sahih tersebut.

2577- أخبرنا أبو عبد الله الحافظ أنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا محمد بن عبد الوهاب ثنا جعفر بن عون أنا أبو عميس عن عون بن عبد الله عن أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنها قالت مَنْ قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ وَ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) وَ (قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ) سَبْعَ مَرَّاتٍ حَفِظَ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى قَالَ حُمَيْدُ بْنُ زَنْجَوَيْه عَنْ جَعْفَر بَعْدَ الْجُمُعَةِ.

2578- وَرُوِيَ فِي ذَلِكَ عَن الزُهري : دُوْنَ الفاتحة و قال حين يُسَلِّمُ الْإِمَامُ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ سَبْعًا سَبْعًا

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, bunyi hadis tersebut adalah

30218- حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ ، عَنْ أَبِي الْعُمَيْسِ ، عَنْ عَوْنٍ ، قَالَ: قالَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ : مَنْ قَرَأَ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَ(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَ(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) حَفِظَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأخرى.

Baca Yuk:  Sejarah Istilah Hadis

“Siapa yang membaca Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an Nas, masing-masing tujuh kali setelah salat Jumat, maka Allah akan menjaganya antara Jumat satu dengan Jumat setelahnya.” 

Kedua hadis di atas secara sanad lebih bagus dan lebih pendek daripada sanad Ibnu Sunni dan Ibnu Syahin. Meskipun statusnya mauquf (bersumber dari sahabat), ia tetap dapat dijadikan dasar hukum, karena hal ini menyangkut peribadatan dan keyakinan yang tidak mungkin para sahabat Nabi mengarang sendiri.

Seluruh periwayat tersebut adalah para periwayat al-Bukhari dan Muslim (Rijalul Bukhari wa Muslim). Itu artinya, kredibilitasnya tidak diragukan lagi dan riwayatnya pasti dapat diterima. Lebih jelasnya, Ibnu Hajar menilai ‘Aun al-Kufi (w. sebelum 120 H, tabi’in), Abul ‘Umais al-Mas’udi al-Kufi (tabi’ut tabi’in senior), dan Ja’far bin Aun al-Kufi (w. 207 H, tabi’ut tabi’in junior), dan Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H) sebagai tsiqah, kecuali Ja’far yang dinilai sangat jujur (shaduq). Meski demikian, al-Dzahabi menilai Ja’far sebagai tsiqah (adil dan dlabit).

Semuanya berasal dari Kufah. Semuanya dijelaskan mungkin bertemu dan para ulama ahli biografi menyebut masing-masing secara berurutan adalah guru-murid. Secara tahun wafat masing-masing sangat mungkin bertemu satu sama lain, sehingga dapat dinyatakan muttasil, bersambung.

Berdasarkan data di atas dapat dipastikan bahwa sanad Ibnu Abi Syaibah, termasuk juga sanad al-Baihaqi yang menjadi mutabi’ taamm-nya adalah berkualitas sahih.

Kalau begitu, bagaimana sekarang menurut Anda, hadis tentang wirid dzikir al-Quran setelah salat Jumat? Bidah atau sunnah?

Jika yang dipakai adalah hadis Ibnu Sunni tentu, kesimpulannya bidah. Jangan diamalkan, karena banyak orang yang menolak hadis yang lemah sekali, meskipun dalam fadlailul ‘amal. Jika selama ini anda merasa bahwa keutamaannya seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Sunni, segeralah beralih kepada hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah yang jelas-jelas sahih. Anda akan aman.

Dengan demikian secara umum, hadis tentang amalan ini adalah sahih, dengan dasar riwayat Ibn Abi Syaibah.

Islam itu luas sekali, bukan? Indahnya mengikuti sunnah Nabi.***AUH