Kritik Matan Adalah Pondasi Kritik Sanad Hadis

Banyak diskursus belakangan yang menyatakan bahwa kritik matan jarang dilakukan oleh para ulama hadis. Mereka menegaskan bahwa para ulama hadis terlalu fokus pada kritik sanad. Bahkan nyaris tak melakukan kritik matan, kecuali baru-baru ini saja, setelah para orientalis mulai mengkritik dan ikutan kajian hadis.

Lalu, para ahli hadis modern mencba menelusuri karya-karya ulama klasik yang secara khusus mengkaji masalah kritik matan. Ditemukanlah kitab kritik matan yang disinyalir memiliki standar sama dengan kritik matan di era modern, yaitu kitab al-Manarul Munif fis-Shahihi wad-Dla’if karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H). Melalui kitab ini, Ibnul Qayyim menawarkan metode praktis untuk membedakan [matan] hadis yang sahih dan dlaif, dari segi redaksi dan makna yang dikandungnya.

Setelah itu, al-Zarkasyi (745-749 H)  menulis kitab yang juga disinyalir sebagai pondasi ilmu kritik matan hadis, yaitu al-Ijabah Li-Iradi Ma Istadrakathu ‘Aisyah ‘Alas-Shahabah. Dalam kitab itu, al-Zarkasyi seolah-olah ingin menunjukkan bahwa kritik matan telah ada sejak masa sahabat. Buktinya ada banyak sekali hadis-hadis yang disampaikan oleh para sahabat, lalu dikoreksi (dikritik matannya) oleh Aisyah, istri Nabi.

Jelas, yang dikritik oleh Aisyah di atas bukanlah sahabatnya, melainkan pemahaman atau konten periwayatannya. Seandainya yang dikritik adalah sahabatnya, alias sanadnya, maka pastilah akan muncul redaksi-redaksi kritik berupa lafaz-lafaz jarh wa ta’dil. Memang, ketika mengkritik hadis riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi pernah melihat Allah sebanyak dua kali, Aisyah langsung meresponnya dengan ungkapan,

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذبَ

“Siapa yang mengabarimu bahwa Muhammad saw pernah melihat Tuhannya, maka ia telah keliru.

Aisyah memilih kata “kadzaba” yang hari ini selalu diartikan dengan berbohong. Namun, yang dimaksud oleh beliau, sebagaimana umumnya penggunaan kata kadzaba tersebut pada masa Nabi, adalah untuk menunjukkan koreksi total. Artinya, yang mengatakan itu tidak berbohong, melainkan keliru besar. Antara keliru dan berbohong, tentu adalah dua hal yang berbeda.

Aisyah tidak mengingkari adanya fenomena yang membuat Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi pernah melihat Tuhan. Melainkan, ia hanya meluruskan duduk perkara yang sebenarnya. Ia membenarkan adanya fenomena yang disebut-sebut oleh khalayak itu sebagai peristiwa melihat Tuhan, namun tidak demikian sebenarnya. Di situlah dapat dipastikan bahwa kata kadzaba yang dimaksud oleh Aisyah bukanlah kadzaba yang biasa dipakai untuk kritik sanad dalam ilmu jarh wa ta’dil.

Hal itu terlihat jelas misalnya dalam dalam riwayat lain,

Baca Yuk:  Logika Bahasa Arab: Pengantar Memahami Matan Hadis

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ وَ لَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيْلَ فِيْ صُوْرَتِهِ وَخَلْقِهِ سَادًّا مَّا بَيْنَ الْأُفُقِ (أخرجه البخاري)

“Siapa yang mengira bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, maka ia telah keliru besar (melebih-lebihkan). Melainkan, yang benar adalah beliau melihat Jibril dalam bentuknya yang asli, memenuhi jagat raya ini.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat al-Bukhari di atas, jelas bahwa yang dikritik oleh Aisyaha adalah pemahamannya (terlihat dari kata, man za’ama). Nyatanya, Aisyah tetap memrcayai Ibnu Abbas yang mengabarkan berita itu, juga sahabat-sahabat lain seperti Ibnu Umar dan Abu Hurairah yang pernah mendapatkan kritik yang sama dengan Ibnu Abbas, yaitu label kadzaba. Dalam hal ini, para sahabat yang lain juga tetap memercayai sahabat-sahabat tersebut.

Contoh yang diulas oleh al-Zarkasyi di atas merupakan sebagian kecil contoh kritik matan yang telah terjadi pada masa sahabat. Jadi, tidak benar jika kritik matan baru muncul belakangan ini, atau baru aktif dilakukan oleh para ulama hadis modern, sedangkan ulama hadis klasik tidak pernah atau jarang melakukannya.

Kami dapat memastikan bahwa kritik matan tetap dan selalu digunakan bahkan lebih dikedepankan oleh para ulama hadis terdahulu. Misalya, dari sekian banyak istilah-istilah penting dalam ilmu hadis, memang terlihat hanya mengkaji sanadnya saja, namun di balik itu sebenarnya tersimpan kaidah-kaidah kritik matan yang sudah sangat baku. Artinya, bahan untuk meramu istilah-istilah pokok dalam kritik sanad adalah praktik nyata kerja kritik matan.

Misalnya, dalam kasus penelitian tentang ke-dlabit-an (intelektualitas) periwayat hadis yang jelas-jelas merupakan bagian terpeting dalam kritik sanad, seorang ulama hadis sebelum memberikan penilaian jarh atau ta’dil tentang ke-dlabit-annya, pasti melakukan kritik matan terlebih dahulu.

Seorang periwat mustahil diteliti kualitas hafalan hadisnya jika tidak pernah diuji materi hadis yang ia riwayatkan. Artinya, hadis-hadis yang disampaikan oleh sang periwayat tersebut terlebih dahulu diuji dengan cara dibandingkan dengan data-data lain yang lebih tinggi seperti al-Quran, atau dengan data lain yang selevel dengannya yaitu hadis-hadis sahih dan fakta sejarah. Setelah itu, barulah diketahui jika sebagian besar adalah sama, tidak ada kontradiksi, maka dinyatakan hafalan/ke-dlabit-annya kuat. Jika tidak, maka akan di-jarh (dianggap tidak laik meriwayatkan hadis).

Baca Yuk:  Ini Komponen Hadis yang Harus Anda Kenal

Bukti lain adalah dalam istilah-istlah penting penentuan kesahihan hadis juga ada kaidah “bebas syudzdz (kejanggalan dan kontradiksi yang lemah argumen)” dan bebas illat (cacat tersembunyi). Kedua kaidah pokok ini tidak hanya terbatas pada sanad saja, melainkan lebih banyak dan lebih mudah dijumpai dalam matan hadis. Hal itu juga selalu dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Selain itu, adanya istilah-istilah seperti maqlub (redaksi terbalik), mushahhaf dan muharraf (salah tulis, salah cetak), mudraj (kata terselip dalam hadis), ziyadah tsiqat (tambahan penjelasan dari orang yang terpercaya), dan istilah-istilah lainnya, menjadi bukti bahwa perhatian ulama klasik hingga kontemporer terhadap kritik matan, tidak pernah berkurang. Bahkan, adanya istilah maudlu’ (hadis palsu) juga menjadi salah satu bukti bahwa kritik matan itu ada sepanjang masa, dan bukan baru ada.

Tak jarang para ulama menjadikan temuan-temuan kasus di atas, seperti adanya temuan idraj (penyisipan kata), tadlis (penyamaran dan pengubahan kata), qalb (pembalikan kata), naqsh (pengurangan kata), tashhif dan tahrif (perubahan aksara dan tanda baca), syudzudz (kejanggalan dan kontradiksi makna), wadl’ (pemalsuan), dijadikan sebagai bukti untuk melakukan jarh wa ta’dil. Karena temuan-temuan itu dalam riwayat seseorang, maka yang bersangkutan biasanya akan mendapatkan penilaian seperti, mudallis, dla’if, layyin, laysa bil qawiyy, munkar, la yastaqim haditsuhu, dan selainnya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kritik matan adalah pondasi kritik sanad. Ia telah ada. Ia menjadi tidak terlihat justru karena pascakodifikasi hadis dan kodifikasi ilmu hadis, praktik kritik hadis menjadi cenderung terpisah antara kritik sanad dan matan. Padahal aslinya, ibarat sebuah bangunan, pondasi selalu tidak tampak. Sedangkan yang terlihat pasti hanyalah bangunannya saja. Itulah kritik sanad dan kritik matan.***