Kritik Hadis Sebagai Teks dan Tradisi

Barangkali di kalangan masyarakat Islam kebanyakan, menyampaikan istilah “kritik hadis” adalah hal yang tabu. Bagaimana tidak, hadis, yang dipercaya berasal dari Nabi, dikritik kebenaran dan isinya. Kesannya tentu sangat tidak etis—atau kalau mau diakui, adalah bibit meragukan ajaran agama sendiri.

Apakah merujuk hadis itu berarti sudah selesai? Sudahkah seseorang yang mengetahui suatu hadis, itu baiknya langsung percaya dan mengakui bahwa perkataan atau tindakan tersebut benar dilakukan oleh Nabi? Ternyata tidak.

Pada beberapa tahap, perlu diketahui bahwa sejarah hadis Nabi beserta ilmunya adalah perjalanan yang panjang. Hadis, yang mulanya adalah tradisi lisan turun temurun pada masa Nabi, baru disusun secara tertulis sekitar abad ke 2 H, jauh setelah Nabi wafat.

Menurut orang-orang yang kritis, dianggap terjadi distorsi dan perubahan hadis dari asalnya. Kalangan orientalis seperti Joseph Schacht dan Ignas Goldziher, meragukan bahwa hadis itu benar-benar sabda Nabi, dan menganggap sanad dan matan dari kalangan sahabat dan seterusnya dibikin untuk melegitimasi ajaran mereka.

Diskusi ilmu hadis dianggap usai sejak kurun abad ke 10 H. Pencatatan hadis telah berakhir, kitab-kitab biografi para periwayat hadis sudah banyak ditulis, dan metode-metode penentuan kesahihan hadis dibakukan oleh sekian ulama. Salah satu dari kalangan yang paling akhir adalah Imam Jalaluddin as Suyuthi dalam kitabnya Tadribur Rawi.

Hadis yang ada sekarang sebagai sebuah teks (narration), agaknya perlu dipahami banyak hal yang melingkupinya. Hadis sebagai bagian dari teks yang memiliki sejarah, memiliki perspektif yang disebut metanarasi. Metanarasi ini adalah hal-hal terkait asal usul sebuah narasi, konteks yang terkait, serta orang-orang yang terlibat dalam narasi tersebut.

Baca Yuk:  Kaidah-Kaidah Keotentikan Hadis (1)

Sebagai sumber hukum agama, hadis dipahami dengan dasar zhanniyat ats tsubut (suatu dugaan yang kokoh). Memastikan bahwa benar-benar sebuah hadis itu berasal dari Nabi, semisal dengan label hadits shahih, adalah hasil dari cara kritik yang ketat ulama pendahulu. Banyak hal dipastikan sebelum menilai kualitas dan aplikasi sebuah hadis.

Setidaknya ada beberapa  komponen yang melingkupi kritik hadis, dimulai dengan ushul hadits. Bidang ini membahas cara memastikan kualitas hadis, untuk menghindari hadis-hadis lemah (dlaif) terlebih hadis palsu (maudlu’). Fokus utama kajian ini adalah terkait sanad periwayat hadis.

Dalam komponen pertama ini, hal yang perlu diperhatikan adalah panjang pendeknya rantai periwayatan (‘ali dan naazil), lalu jumlah riwayat (ahad atau mutawatir). Semakin pendek rantai sanad, kualitas hadis akan semakin kuat, apalagi jika diriwayatkan oleh sekian orang dalam tingkatan masa yang sama.

Dibahas pula dalam ushul hadits tentang ketersambungan sanad (muttashil). Benarkah periwayat yang disebut dalam sanad tersebut benar-benar berguru dengan orang yang disebutkan setelahnya?

Selanjutnya adalah meneliti orang-orang dalam sanad (al jarh wat ta’dil), dan bagaimana cara ia mendapat riwayat hadis dari orang lain (tahammul al hadits).

Ibnu Khaldun, menyebutkan bahwa metode kritik hadis tersebut berasal dari akar budaya dalam keseharian dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi modern, pada dasarnya ada tiga komponen utama: penyampai pesan, konten pesan, dan penerima pesan. Hadis menguji tiga hal tersebut secara ketat.

Selain menelusuri dan mengkaji narasi dan asal usul hadis, ternyata tidak berhenti di situ. Selanjutnya adalah pengamalan hadis. Kajian ini dilakukan para ulama fikih denga melakukan ijtihad. Salah satu ulama yang melakukan perumusan cara penggalian hukum dari hadis ini adalah Imam asy Syafi’i, dalam kitabnya Ar-Risalah.

Beberapa ulama lain menyusun kitab penjelasan (syarah) atas kitab-kitab hadis utama, seperti Al Qasthalani mensyarahi Shahih al Bukhari dalam kitab Irsyadus Sari dan Imam an Nawawi mensyarahi Shahih Muslim. Selain kajian sanad dan hukum, mereka juga menyertakan komentar ulama dan konteks sejarah yang ada.

Baca Yuk:  Metode Imam As Sakhawi Meneliti Hadis Populer

Karena kajian sanad hadis adalah kajian tentang dan identitas dan kepribadian orang, maka buku biografi disusun. Salah satu yang populer adalah Tahdzibul Kamal yang disusun oleh Imam adz Dzahabi. Kajian orang-orang dalam sanad hadis disebut ilmu rijalul hadits.

Kritik hadis tidak bermaksud untuk mengurangi kepercayaan kepada hadis. Namun salah satu tujuan terpenting dari penilaian sanad dan matan secara kritis ini adalah untuk meletakkan hadis sesuai proporsinya, serta memahaminya dengan baik dan tidak sembarangan.

Artikel ini sebelumnya dimuat di islami.co