Kisah Sukses Abu Hurairah (W. 59 H) Menjadi Mahaguru Besar Riwayat Hadis

Banyak orang meragukan kepintaran Abu Hurairah (w. 59 H). Apalagi ditambah dengan asal-usul dan identitasnya yang cukup misterius. Namun, dalam Islam tidak ada perlakuan demikian terhadap seseorang. Siapapun berhak menjadi pintar dan dihormati. Abu Hurairah juga diragukan kealimannya karena hanya sekitar dua sampai tiga tahun saja bersahabat dengan Nabi, namun menjadi periwayat hadis terbanyak. Tak tertandingi oleh sahabat lain jumlah hadisnya. Yaitu, mencapai  sekitar 5374 hadis.

Desas-desus tentang Abu Hurairah ternyata telah muncul sejak lama. Ia bahkan pernah mendengar langsung desas-desus warga tentang dirinya itu.

عن سعيد بن المسيب وأبي سلمة بن عبد الرحمن أن أبا هريرة رضي الله عنه قال : إنكم تقولون إن أبا هريرة يكثر الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم وتقولون ما بال المهاجرين والأنصار لا يحدثون عن رسول الله صلى الله عليه و سلم بمثل حديث أبي هريرة وإن إخوتي من المهاجرين كان يشغلهم صفق بالأسواق وكنت ألزم رسول الله صلى الله عليه و سلم على ملء بطني فأشهد إذا غابوا وأحفظ إذا نسوا وكان يشغل إخوتي من الأنصار عمل أموالهم وكنت امرأ مسكينا من مساكين الصفة أعي حين ينسون وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم في حديث يحدثه ( إِنَّهُ لَنْ يَبْسُطَ أَحَدٌ ثَوْبَهُ حَتَّى أَقْضِيْ مَقَالَتِيْ هَذِهِ ثُمَّ يَجْمَعُ إِلَيْهِ ثَوْبَهُ إِلاَّ وَعَى مَا أَقُوْلُ ) . فبسطت نمرة علي حتى إذا قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم مقالته جمعتها إلى صدري فما نسيت من مقالة رسول الله صلى الله عليه و سلم تلك من شيء. (رواه البخاري)

“Kalian sibuk meributkan bagaimana bisa Abu Hurairah meriwayatkan banyak sekali hadis dari Rasulullah saw. Kalian juga meributkan kenapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. sebanyak Abu Hurairah?” Tukas Abu Hurairah.

Baca Yuk:  Sanad dan Matan Hadis yang Tertukar: Hadis Maqlub

“Saudara-saudaraku Muhajirin itu sibuk dengan pekerjaannya di pasar, sedangkan aku sendiri tekun sekali mengikuti pengajian Rasulullah saw, tak pernah alpa. Saya selalu hadir, saat mereka tidak hadir. Saya seringkali hafal hadis Nabi, saat mereka lupa. Sedangkan saudara-saudaraku dari kaum Anshar, sibuk mengurusi harta (kebun-kebun) mereka.” Lanjutnya. “Sementara aku, hanyalah seorang diantara para fakir miskin yang tinggal di emperan (shuffah) masjid. Aku menghafal pelajaran Nabi, saat mereka lupa.” Kenangnya.

“Rasulullah pernah menegaskan dalam suatu hadis yang beliau sabdakan, ‘Orang yang menggelar pakaiannya sampai aku selesai menyampaikan pengajianku ini kemudian ia ikat pakaiannya itu, pasti tidak akan lupa terhadap apa yang aku katakan.” Mendengar hal itu, Aku langsung menggelar selimutku sampai akhir pengajian Nabi. Ketika berakhir, aku pun segera melekatkannya di dadaku. Sejak itu, aku tak pernah lupa hadis Nabi sedikitpun. (HR. al-Bukhari)

Jika dihitung setiap hari bergaul dengan Nabi dan mendengar pengajian Nabi, anggap saja satu hari mendengar satu hadis (one day one hadith, dan itu tampaknya bisa lebih dari satu hadis dalam satu hari), bagaimana dengan kesaksiannya terhadap perbuatan Nabi. Keluar-masuknya Nabi di masjid juga selalu terlihat olehnya. Cara makan. Cara keluar rumah. Cara memasuki masjid. Cara shalat. Cara berwudlu. Semuanya adalah perbuatan Nabi yang pernah direkam secara sangat baik oleh Abu Hurairah.

Jika Abu Hurairah menyampaikan sabda Nabi ditambah dengan perbuatan Nabi yang begitu banyak setiap harinya, maka sangat wajar jika jumlah hadisnya mencapai  lima ribu. Lima ribu bukanlah bilangan yang terlalu banyak untuk pergaulan tiga tahunan. Belum lagi, Abu Hurairah juga sering mendengarkan “curhatan” Nabi, keinginan (hammiyyah) Nabi.

Baca Yuk:  Ini Komponen Hadis yang Harus Anda Kenal

Bukankah ketika seseorang bertemu dengan orang besar nan tersohor lagi terhormat, selalu menyisakan ribuan kenangan dan kisah meskipun hanya bertemu satu atau dua jam saja? Jika tidak percaya, temuilah presiden yang terhormat, hadirilah majelis ulama ternama di dunia. Pasti Anda akan mendapatkan ratusan kesan meskipun Anda hanya bertemu selama satu jam, dan bahkan ketika Anda tidak diajak berkomunikasi secara langsung olehnya.

Abu Hurairah juga termasuk sahabat yang beruntung. Awalnya ia sering lupa setiap kali usai mengikuti pengajian Nabi. Lalu ia curahkan kegelisahannya itu kepada Nabi. Nabi pun memintanya untuk menggelar sorban yang ia kenakan, lalu Nabi berdoa kepada Allah di atas sorban itu

Dari kisah Abu Hurairah tersebut, kita dapat ambil satu pelajaran. Kalau kita menjadi pelajar atau santri, jangan segan-segan minta didioakan oleh guru. Kalau kita menjadi pengajar, guru, atau dosen, juga jangan pernah lupa mendoakan yang spesial untuk murid dan santri kita. Di samping, yang utama, yaitu harus tekun dan istikamah dalam belajar dan mengajar. Hormati dan muliakanlah apapun yang berkaitan dengan ilmu Anda.***