Kemapanan Ilmu Hadis Dimulai dari Ibnu Shalah

Perkembangan ilmu hadis dalam sejarah Islam baru dikembangkan secara lebih serius pada masa Dinasti Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Dalam berbagai kitab disebutkan bahwa tokoh terpenting dalam pengkodifikasian hadis ini adalah Ibnu Syihab Az Zuhry. Setelah masa itu, hadis-hadis Nabi mulai dikumpulkan dari berbagai penjuru. Namun perlu diketahui bahwa yang baru dilakukan pada masa Az Zuhry hanya mengumpulkan hadis saja, dan berbagai macam teori untuk menelaah hadis belum tersusun secara baku.

Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan dalam Nukhbatul Fikr bahwa penyusunan dasar-dasar ilmu hadis telah dimulai oleh Syeikh Ar Ramahurmuzy dalam kitabnya al Muhaddits al Fashil bainar Rawi wal Wa’i.

Hal tersebut diikuti dengan penyempurnaan ilmu tersebut oleh Imam Hakim an Naisabury dalam kitab Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits; dan di masa setelahnya banyak yang melakukan telaah lebih lanjut.

Lanjut Ibnu Hajar, seluruh kitab-kitab tersebut masih belum cukup sistematis dan lengkap – karena antar disiplin pokok-pokok ilmu hadis masih terpisah – serta belum terstruktur dalam satu teori yang koheren dan utuh. Dalam perkembangan ilmu hadis kitab Ma’rifatu anwaa’ ‘uluum al hadis karya Ibnu Shalah, yang lebih sering disebut dengan kitab Muqaddimah Ibnus Shalah adalah yang paling banyak dirujuk.

Nama asli beliau adalah Utsman bin Abdurrahman As Syahrazuri, namun selanjutnya lebih dikenal dengan Ibnu Shalah. Beliau dilahirkan di daerah Syarakhan di distrik Syahrazur, Irak Utara. Ibnu Shalah di masa kecilnya telah bergumul dalam masyarakat yang heterogen.

Tercatat bahwa dua golongan besar, yakni Bani Syahrazur dan Bani Asrun, merupakan kalangan penasehat negara pada masa Dinasti Zaidiyah dan Ayyubiyah. Kedua golongan tersebut merupakan kalangan penganut mazhab Syafii.

Baca Yuk:  Sunnah: Satu Kata, Beragam Makna (1)

Ibnu Shalah memulai pendidikan agamanya di bawah asuhan dari bapaknya sendiri semasa masih berdomisili di daerah Irbil yang dikuasai Dinasti Ayyubiyah. Pada masa kebanyakan masyarakat Irbil menganut paham Sunni, yang memberi pengaruh dalam pengembangan kajian Islam di daerah tersebut, seperti adanya madrasah pembelajaran hadis Al Muzaffariyah.

Disebutkan ketika itu forum pengajian agama, atau yang disebut madrasah, terlebih yang berfokus pada  ilmu hadis amatlah sedikit. Ilmu hadis belum banyak mendapat perhatian dari penguasa setempat. Ibnu Shalah mulai tertarik pada ranah kajian hadis, terutama sejak berdiam di daerah Mosul.

Dalam dinamika politik masa itu yang bisa saja merepresi karirnya, Ibnu Shalah menunjukkan perhatian lebih terhadap ilmu hadis, salah satunya dalam proses penulisan karya pentingnya, Muqaddimah ibn Shalah. Dia dikukuhkan menjadi guru di berbagai madrasah, diakui kepakarannya oleh banyak kalangan dalam ilmu hadis sampai akhir hayat pada 643 H.

Sebagaimana disebutkan pada pembuka tulisan ini, Muqaddimah Ibnu Shalah merupakan karya pionir ilmu hadis, dari berbagai aspeknya secara baku dan sistematis. Selain menyusun dan memperkokoh teori ilmu hadis, Ibnu Shalah juga melakukan kritik dan pembaharuan terhadap beberapa teori, dan salah satu yang mendapat sorotan adalah masalah sanad yang ‘aaly (luhur) dan naazil (rendah).

Ibnu Shalah merumuskan, bahwa dalam penyampaian hadis dari tingkat perawi yang lebih tinggi ke generasi setelahnya, patut diperhatikan banyaknya perawi yang meriwayatkan hingga sampai kepada seseorang. Singkatnya, rantai sanad yang lebih pendek mendukung otentisitas suatu hadis.

Secara teoritis, panjang pendeknya suatu sanad, jika hadis itu telah terbukti otentik dari segi perawi yang meriwayatkannya, tentu tidak ada masalah. Namun patut diperhatikan bahwa generasi yang memiliki kedekatan pada generasi pelopor, memiliki kedekatan dan kepercayaan yang lebih baik dari generasi yang belakangan.

Baca Yuk:  Ini Lho Beda Al Quran dan Hadis Qudsi

Ibnu Shalah memahami teks hadis “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang mengikuti selanjutnya…”. Berdasarkan konsensus ulama hadis, para sahabat Nabi adalah orang yang ‘aadil, dan periwayatan dari mereka diterima secara mutlak. Karena itulah, rantai periwayatannya yang lebih pendek dengan kalangan sahabat, dianggap memiliki derajat lebih tinggi.