Peran Khas Ilmu Riwayat dalam Islam

Ilmu riwayat adalah cabang terpenting dalam ilmu hadis. Bahkan, hadis-hadis Nabi dalam sejarahnya hanya dapat didokumentasikan melalui kegiatan periwayatan. Dari sinilah dapat dinyatakan pula bahwa ilmu riwayat hadis adalah ilmu yang khas dalam Islam, karena sebagian besar ilmu agama Islam, basis utamanya adalah riwayat. Artinya, bagian terbesar ajaran-ajaran agama dan ilmu keislaman adalah didasarkan kepada riwayat.

Ilmu riwayat memang bukanlah hal baru. Sejak sebelum Islam, ilmu riwayat juga sudah ada. Bahkan, ilmu riwayat ini menjadi salah satu sumber ilmu dalam berbagai tradisi, bukan hanya tradisi keilmuan dalam Islam saja. Contoh paling sederhana adalah ilmu riwayat atau hikayat yang berkembang di Indonesia, sebelum masa Islam. Hingga kini, dari jejak ilmu hikayat tersebut, kita masih dapat mendengar adanya dongeng-dongeng dan kisah-kisah penuh hikmah.

Dalam Islam, ilmu riwayat di samping memiliki kedudukan yang istimewa, juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ilmu riwayat dalam tradisi lain. Sanad adalah bukti keistimewaan ilmu riwayat dalam Islam. Dalam ilmu hadis, dikenal banyak sekali statemen yang menjadi adagium bahwa isnad adalah keistimewaan yang dimiliki oleh Islam.

Abu Ali al-Jayani (427-498 H) menegaskan,

خصّ الله تعالى هذه الأمة بثلاثة أشياء لَمْ يعطها مَنْ قَبْلَهَا مِنَ الأمم : الإسناد ، والأنساب ، والإعراب

“Tiga keistimewaan yang oleh Allah hanya diberikan kepada umat [Islam] ini, tidak kepada umat sebelumnya, adalah: Isnad, Nasab, dan I’rab.”

Dengan isnad itulah, ilmu riwayat dapat dibuktikan kebenarannya. Inilah yang menjadi bangunan metodologi ilmu riwayat.

Di dunia ini ada beberapa macam ilmu pengetahuan. Ada ilmu pengetahuan yang didasakan kepada rasio (al-aql), seperti filsafat. Ilmu tersebut biasanya untuk menetapkan keberadaan sesuatu. Ada juga yang didasarkan kepada observasi (at-tajribah wal ikhtibar), seperti ilmu teknologi. Ada pula yang didasarkan kepada fakta empiris (musyahadah bil hiss), ada pula yang melalui intuisi (badihah bi fithratil idrak). Ilmu-ilmu tersebut ada dalam semua tradisi, baik dalam Islam, maupun non Islam, bahkan sejak sebelum Nabi Muhammad lahir.

Satu lagi sumber ilmu pengetahuan yang belum tersebut di atas, yaitu ilmu informatif. Itulah ilmu riwayat. Basis utamanya, bukan rasio, bukan fakta empiris, bukan pula observasi, maupun intuisi, melainkan isnad. Ilmu ini berkembang pesat sepanjang sejarah peradaban Islam. Ilmu hadis adalah wadahnya.

Baca Yuk:  Kemapanan Ilmu Hadis Dimulai dari Ibnu Shalah

Muhammad Muhammad As-Sammahi dalam kitabnya, al-Manhajul Hadits Fi Ulumil Hadits, Qismur Riwayah, menyatakan bahwa ada dua model ilmu riwayat. Pertama, ilmu riwayat (informatif) konvensional, yang dalam sejarahnya bermula dari peristiwa yang terjadi pada masa para leluhur. Kemudian ia disampaikan secara turun-temurun, lintas generasi. Dalam bentuknya yang seperti ini, ilmu sejarah konvensional juga turut mengkajinya.

Kedua, ilmu riwayat (informatif) yang berkenaan dengan perintah-perintah dan larangan, perundang-undangan agama (tasyri’), kitab-kitab terdahulu, dan mukjizat yang dibawa oleh pada Nabi dan rasul, dengan tujuan untuk menata kehidupan umat manusia agar selalu sesuai dengan kehendak penciptanya.

Sebenarnya, ilmu riwayat dalam pengertiannya yang umum—yaitu penyampaian berita dan penyandarannya kepada sumbernya—tidak ada yang dapat diklaim milik suatu komunitas tertentu saja. Setiap umat pastilah memiliki kisah-kisah dan cara periwyatannya yang khas. Setiap umat juga memiliki caranya sendiri yang khas untuk melestarikannya. Ada yang mengabadikan riwayat itu melalui dongeng, hikayat, syair, babad, ataupun karya-karya seni dan budaya lainnya seperti lukisan, ukiran, dan selainnya.

Riwayat dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan selama dapat dipetanggungjawabkan kesahihannya. Sedangkan riwayat yang palsu, mengandung kebohongan tidak dapat dijadikan sebagai sumber ilmu. Riwayat yang mengandung kebohongan biasanya bertentangan dengan rasio, fakta empiris, atau observasi yang cermat. Kepalsuan tersebut biasanya terjadi karena kekeliruan periwayatnya saat memahami riwayat yang ia dengar dari narasumbernya, lalu ia sampaikan sesuai dengan pemahamannya tersebut.

Ilmu rasional, empiris, intuitif, dan observatif telah banyak yang memperhatikannya sejak sebelum Islam. Namun tidak demikian halnya dengan ilmu riwayat. Karena itu, Islam datang untuk melengkapinya, sehingga ilmu riwayat dapat diakui sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sah dan otoritatif.

Islam memberikan perhatian yang luar biasa besar dan spesial terhadap ilmu riwayat, yaitu dengan membangun dan memperkokoh sistem Isnad. Ini karena ilmu riwayat adalah satu-satunya ilmu yang dapat diandalkan untuk melestarikan dan melindungi dua sumber syariat Islam, yaitu al-Quran dan hadis. Penetapan ayat al-Quran tidaklah didasarkan kepada rasio, intuisi, observasi, ataupun data empiris semata. Melainkan melalui ilmu riwayat.

Baca Yuk:  Sunnah: Satu Kata, Beragam Makna (2)

Keberadaan dan kevalidan berita-berita kenabian juga demikian. Ia tidak didasarkan kepada rasio, observasi, intuisi, ataupun data empiris, melainkan didasarkan kepada riwayat. Seseorang tidak dapat menetapkan sebuah hadis hanya berdasarkan logika semata, atau intuisi, atau melalui observasi di laboratorium.

Dengan demikian, sempurnalah keilmuan dalam Islam dengan adanya ilmu riwayat ini. Islam tidak hanya memiliki ilmu logika, ilmu intuitif, ilmu observatif-alamiah, dan ilmu empiris, melainkan juga memiliki ilmu riwayah (informatif).

Ilmu yang disebut paling akhir inilah yang kemudian dikembangkan secara rinci hingga dikenal dengan ilmu istilah-istilah (ilmu mushthalah). Berbagai macam istilah yang secara umum, jumlahnya hampir seratus itupun memiliki metode (manhaj) yang berbeda-beda pula. Bahkan cara periwayatannya pun diatur tersendiri secara sangat ketat; ada yang dengan cara dikte, dibacakan satu persatu, diijazahkan, diwasiatkan, dan sejenisnya.

Perhatian yang besar terhadap ilmu riwayat sehingga menjadi khas dalam Islam tersebut dapat diringkas dalam dua poin besar, yaitu:

  1. Cermat dalam periwayatan. Ini berbeda dengan periwayatan dongeng, puisi, hikayat atau informasi lainnya yang boleh saja secara maknawi. Dalam dinamika ilmu hadis, periwayatan maknawi diperbolehkan sepanjang tidak mengubah lafal secara besar-besaran, apalagi sampai mengubah makna meskipun hanya sedikit saja. Ini didasarkan kepada aturan periwayatan dari Nabi sendiri, yaitu: Siapa yang berbohong atas namaku, maka silakan menempati singgasananya di neraka.
  2. Peraturan yang ketat dalam mengakui sebuah periwayatan, yaitu kontinuitas antar periwayat yang adil dan dabit hingga kepada sumber aslinya (ittishalus sanad ilan Nabi bil-‘udul al-dlabithin). Tidak hanya itu, riwayat-riwayat tersebut juga harus meyakinkan, ditandai dengan tidak adanya hal-hal yang meragukan berupa syudzud dan

Dari sinilah, ilmu riwayat dalam Islam tidak hanya mengkaji masalah kontennya saja, melainkan juga mengkaji masalah kompetensi dan integritas pada perwayatnya serta proses periwayatannya. Itulah kekhasan ilmu riwayat dalam Islam.***