Kalau Ada Nabi Palsu, Kali Ini Soal Sahabat Palsu

Dulu,  sejak masa Nabi sudah ada orang yang mengaku sebagai Nabi palsu. Musailamah namanya. Karena pengakuannya itu ia kemudian dijuluki sebagai al-kadzdzab (tukang dusta, tukang bohong, tukang ngibul). Jadilah sekarang setiap kali menyebut namanya selalu tersemat pula gelar tersebut, Musailamah al-Kadzdzab.

Sempat ada ramai-ramai juga terkait kabar adanya Nabi Palsu yang muncul dari India. Ahmadiyah disebut-sebut sebagai ormas yang mengakui adanya Nabi setelah Nabi Muhammad, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Umat Islam pun ramai karena kabar tersebut.

Di Indonesia, juga demikian adanya. Ada beberapa kali tokoh yang menggemparkan negeri dengan pengakuannya sebagai Nabi baru. Ada nama Musaddeq, ada nama Lia Eden dengan Salamullahnya yang mengaku mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, dan beberapa tokoh lain. Entah apa motifnya dan kenapa mereka mengaku sebagai Nabi.

Entah apa pula yang menyebabkan orang begitu percaya dengan doktrin kenabian mereka, sementara mereka juga mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Tidak ada Nabi setelahnya. Yang jelas, hampir semuanya mengaku beragama Islam, dan juga meyakini kebenaran kitab suci al-Quran.

Di sinilah, tantangan kita sebagai pengkaji dan pendidik yang berbasis ajaran Nabi. Kita harus lebih cerdas dan cerdik lagi mensyiarkan bahwa Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad. Kita pun harus lebih arif lagi dalam menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Terlepas dari itu semua, dalam kajian hadis ada juga “posisi bergengsi” selain posisi kenabian. Jika posisi kenabian sudah tertutup untuk siapapun karena memang Allah sendiri yang menutupnya, maka tidak demikian halnya dengan posisi sahabat Nabi. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersama Nabi, atau sekedar bertemu dengannya dan mengimaninya.

Ternyata posisi ini juga diincar oleh generasi belakangan untuk mendongkrak popularitas dan otoritasnya di masyarakat. Mengaku sebagai Nabi adalah terlalu berat resikonya, akan didustakan oleh umat. Bahkan akan dimusuhi oleh umat. Apalagi mengaku Nabi setelah Nabi Muhammad. Akhirnya, ada pula ternyata orang yang mengaku sebagai sahabat Nabi, padahal Nabi sudah wafat sejak 600 tahun yang lalu.

Baca Yuk:  Ini Resep Meredakan Amarah!

Sepintas, mengaku-ngaku sebagai sahabat Nabi di era yang jauh sekali dari masa Nabi tampak tak ada masalah. Seolah-olah tak berdosa, sebagaimana kalau mengaku sebagai Nabi. Namun, kebohongan tetaplah kebohongan. Ia bukan hanya dosa, melainkan juga induk dari segala dosa. Ia adalah pintu gerbang utama menuju neraka.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه الجماعة إلا النسائي)

“Waspadalah terhadap perbuatan bohong. Karena bohong itu menyebabkan kemaksiatan. Sedangkan kemaksiatan itu mengantarkan ke neraka. Seserang yang berbohong dan terbiasa berbohong pasti akan dicap sebagai pembohong oleh Allah.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirimidzi, dan Ibnu Majah)

Adalah Ratan bin Abdullah al-Hindi, seorang yang mengaku-ngaku sebagai sahabat Nabi. Ibnu Hajar al-Asqallani (w. 852 W.) mencatat nama dan biodatanya dalam ensiklopedi sahabat yang ia susun, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah). Menurutnya, ia adalah sosok yang misterius. Nama lengkapnya pun masih samar-samar. Ada yang menyebut Ratan (رتن), ada pula yang menyebutnya Rathan (رطن). Nasabnya juga demikian, ada yang menyebut putra Abdullah, ada yang menyebut putra Sahuk, Nasr, dan juga Maidan.

Ibnu Hajar mengawali keterangannya tentang biodata Ratan dengan ungkapan,

شيخ خفي خبره بزعمه دهرا طويلا إلى أن ظهر على رأس القرن السادس فادعى الصحبة

“Ratan adalah orang tua yang misterius. Kabarnya tidak jelas. Ia mengaku berumur sangat panjang hingga melewati awal abad ke-6 H. Dia mengaku-ngaku sebagai sahabat Nabi.

Karena mengaku sebagai sahabat Nabi, ia pun punya murid yang cukup banyak. Di antaranya adalah kedua anaknya sendiri, yaitu Mahmud dan Abdullah.

Baca Yuk:  Beginilah Marahnya Rasulullah

ولم أجد له في المتقدمين في كتب الصحابة ولا غيرهم ذكرا لكن ذكره الذهبي في تجريده فقال رتن الهندي شيخ ظهر بعد ستمائة بالشرق وادعى الصحبة فسمع منه الجهال ولا وجود له بل اختلق اسمه بعض الكذابين وإنما ذكرته تعجبا كما ذكره أبو موسى سربانك الهندي بل هذا إبليس اللعين قد رأى النبي صلى الله عليه و سلم منه وأغرب من ذلك صحابي هو أفضل الصحابة مطلقا فذكر عيسى بن مريم عليهما السلام

Ibnu Hajar menyebut bahwa sebelumnya tidak pernah ada ahli sejarah sahabat dan kenabian yang menuturkan kisah Ratan. Bahkan ahli sejarah umum pun tidak ada yang menyebutkan nama Ratan. Tiba-tiba al-Dzahabi menuturkannya dalam kitab al-Tajrid.

Menurut al-Dzahabi, Ratan adalah orang tua yang misterius. Ia baru muncul pada tahun 600-an hijriah di daerah Timur. Ia mengaku sebagai sahabat Nabi. Karena itu, banyak orang-orang yang tak berilmu, mendatanginya untuk belajar. Sebenarnya, sosoknya tak pernah ada. Para pembohong sajalah yang meciptakana nama itu. Sedangkan aku (al-Dzahabi) menuturkannya di sini karena rasa aneh saja sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Abu Musa Sarbank al-Hindi.

Ratan itu tak lain adalah seperti sosok Iblis terlaknat yang pernah melihat Nabi. Salah seorang sahabat ternama saja mengingkari kisah itu.

Demikianlah, kisah ini dituturkan di wikihadis.id  adalah sebagai pelajaran agar kita tidak mudah tertipu oleh orang-orang yang membawa berita aneh.