Berbicara masalah kualitas sanad hadis, adakalanya hadis itu sahih, hasan, dan dla’if. Hadis yang sanadnya sahih memiliki lima kriteria, yaitu sanadnya bersambung dari awal hingga akhir, seluruh periwayatnya adalah adil dan dlabit (tsiqah), dan tidak syadz serta tidak mengandung ‘illat.

Hadis hasan memiliki kriteria yang sama dengan hadis sahih. Hanya saja, bedanya adalah pada status kedabitan periwayatnya. Jika salah satu saja di antara periwayat dalam rantai sanad tersebut yang tidak sempurna kedlabitannya, maka sanad hadisnya hasan. Namun perlu dicatat pula, bahwa periwayat tersebut juga tidak boleh cacat hafalannnya alias tidak dlabit. Ia harus dlabit, namun kedlabitannya dapat dinilai pada kisaran angka 70-an dalam skala nilai 100. Begitu kira-kira gambaran sederhananya.

Ada lima sebab suatu hadis menjadi dihukumi lemah banget alias dla’if syadid, yaitu:

  1. Salah satu di antara periwayatnya pernah terbukti berbohong saat meriwayatkan hadis. Hal ini biasa diungkapkan dengan istilah kadzib, kadzdzab, dajjal, yadla’ al-hadits, wadldla’, dan sejenisnya. Yang ini, jelas telah menjadi kesepakatan seluruh ulama.
  2. Salah satu saja di antara periwayatnya diduga berbohong, namun berlum pernah terbukti berbohong saat meriwayatkan hadis. Ini karena ia sering tidak jujur dalam perkataan sehari-harinya. Ini biasa diungkapkan dengan istilah muttaham bil kadzib, muttaham bil wadl’.
  3. Salah satu saja di antara periwayatnya terbukti sebagai orang yang fasik.
  4. Hadisnya berstatus syadz atau munkar.
  5. Hadisnya ma’lul disebabkan oleh illat qadihah (yang merusak), baik itu yang tampak (zhahirah) maupun illat yang tersembunyi (khafiyyah).

 

Hadis yang dalam sanadnya terdapat keriteria itu, maka tidak dapat dinaikkan menjadi hasan lighairi (la yustasyhad bi haditsihim wa la yu’tabar bihim). Demikianlah, hal yang dapat kita simpulkan dari kriteria yang dibuat oleh Imam al-Tirmidzi.

Baca Yuk:  Ini Manfaat Shalat Gerhana

Hadis yang lemah banget tidak dapat dinaikkan statusnya menjadi hasan lighairih, meskipun ada jalur lain yang menguatkannya. Artinya, meskipun maknanya sahih, hadis yang dalam jalur periwayatannya memiliki keriteria tersebut tidak dapat diakui keberadaannya. Jika, hendak beramal, sebaiknya hindari hadis yang lemah banget, dan gunakanlah hadis yang sama namun sanad dan matannya berkualitas sahih atau hasan. Cara seperti itu akan lebih membuat kita aman dan nyaman dalam beragama.

Dalam hal ini Ibn al-Shalah mengungkapkan masalah ini dengan statemen,

ومن ذلك ضعف لا يزول بنحو ذلك لقوة الضعف، وتقاعد الجابر عن جبره ومقاومته، وذلك كالضعف الذي ينشأ عن كون الراوي متهما بالكذب أو كونه شاذا.

 

Di antara (jenis hadis dlaif itu), ada jenis lemah yang tidak dapat hilang meskipun ada hadis lain yang serupa dengannya (dan berkualitas baik). Ini karena parahnya kelemahan hadis tersebut, sehingga hadis lain yang serupa dengannya tidak mampu untuk mendukung dan menaikkannya menjadi hasan lilghairih.  Contohnya adalah hadis dlaif yang disebabkan oleh adanya periwayat yang diduga kuat berbohong atau karena syadz.

Wallau a’lam.

No more articles