Ini Kisah Sahabat Palsu, Ratan al-Hindi (632 H)

Pada artikel “Kalau Ada Nabi Palsu, Kali Ini Soal Sahabat” telah diuraikan siapa itu sosok yang mengaku sebagai sahabat palsu. Kabar tentang sahabat palsu yang muncul di India ini benar-benar meresahkan para ulama hadis pada masa itu. Al-Dzahabi (673-748 H) adalah orang yang paling tidak nyaman dan gusar karena keberadaannya. Ia bahkan menulis satu buku khusus tentangnya, namun sayang, buku itu tidak sampai ke kita.

Ibnu Hajar al-Asqallani (773-852 H), banyak mendapatkan kisah itu dalam beberapa kitab rijal hadis karya al-Dzahabi. Ia menulis biodata Ratan, sang sahabat palsu itu secara panjang lebar. Butuh beberapa halaman untuk menguraikan kisahnya dalam kitab ensiklopedi sahabat yang berjudul, al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah.

Al-Dzahabi menyebut biodata Ratan dalam Mizan al-I’tidal, sebagai berikut:

رتن الهندي وما أدراك ما رتن شيخ دجال بلا ريب ظهر بعد ستمائة فادعى الصحبة والصحابة لا يكذبون وهذه جراءة على الله ورسوله

“Ratan al-Hindi. Siapa dia itu?! Dia itu orang tua pembohong. Jelas itu, tidak perlu diragukan lagi. Dia baru muncul setelah tahun 600 H, lalu tiba-tiba mengaku pernah bersahabat dengan Nabi. Padahal, sahabat itu tidak ada yang berbohong. Ini sunggun perbuatan yang nekat, terlalu berani, melawan Allah dan rasulNya.”

Kabar tentang Ratan ini memang benar-benar membuatnya marah dan geram. Al-Dzahabi bahkan tak segan-segan menggunakan kata-kata kasar setiap kali menyebut nama-nama yang identik dengan Ratan. Ahli hadis lain juga demikian, meskipun tidak seemosional al-Dzahabi.

Tampaknya, kehadiran Ratan ini pulalah yang mendorong Ibnu Hajar untuk mengubah definisi sahabat. Semula, definisi sahabat adalah orang-orang beriman yang pernah melihat (ra’a) Nabi. Baru pertama kalinya, Ibnu Hajar menggantinya dengan definisi, orang beriman yang bertemu (laqiya) Nabi. Dengan definisi ini, orang yang sekedar melihat Nabi dalam mimpinya, tidak dapat disebut sebagai sahabat Nabi. Pertemuan yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar tentunya adalah pertemuan di dunia nyata, saat terbangun, sebelum Nabi saw wafat.

Kegeraman ahli hadis itu salah satunya diekspresikan dengan kata-kata sebagai berikut;

ولئن صححنا وجوده وظهوره بعد سنة ستمائة فهو إما شيطان تبدى في صورة بشر فادعى الصحبة وطول العمر المفرط وافترى هذه الطامات وإما شيخ ضال اسس لنفسه بيتا في جهنم بكذبه على النبي صلى الله عليه و سلم ولو نسبت هذه الأخبار لبعض السلف لكان ينبغي لنا أن ننزهه عنها فضلا عن سيد البشر

Baca Yuk:  Kualitas Hadis Wiridan Surah Mu’awwidzat Tujuh Kali Setelah Jumatan

“Seandainya kami harus membenarkan keberadaannya, sementara dia baru muncul setelah abad ke-enam, maka pastilah dia itu kalau bukan setan yang menjelma jadi manusia yang mengaku sebagai sahabat Nabi yang berumum panjang dan membuat-buat kerusakan, berarti dia itu orang tua yang sesat. Dia sedang membangun sebuah rumah untuknya sendiri di Jahannam karena kebohongannya terhadap Nabi saw. Seandainya nama para ulama salaf dibawa-bawa untuk membenarkan cerita ini, maka tugas kitalah yang menghapuskannya, apalagi ini menyangkut nama baik Nabi.”

al-Dzahabi juga menyebut sanad-sanad apapun, baik itu sanad hadis maupun sanad non-hadis, yang terdapat nama Ratan al-Hindi di dalamya, sebagai Silsilatul Kadzib (rantai palsu), bukan Silsilatudz-Dzahab (rantai emas).

Ibnu Hajar juga menemukan data lain tentang Ratan dalam buku-buku sejarah yang ditulis oleh Syamsudin al-Jazari. Ia mendengar kisah gurunya yang cerdas, yaitu Abdul Wahhab bin Ismail al-Farisi di Mesir pada tahun 712 H. Saat itu, di Syiraz pada tahun 675 H, ada seorang pendatang bernama Mahmud, putera Baba Ratan. Ia mengisahkan bahwa ayahnya adalah saksi hidup peristiwa besar yang merupakan mukjizat Nabi, insyiqaqul qamar (terbelahnya bulan). Peristiwa itulah yang menjadi motivasinya untuk berhijrah.

Tidak hanya itu, ayahnya juga menjadi salah satu pejuang perang Khandaq, bahkan ia adalah salah satu penggali paritnya. Saat menggali parit (khandaq), ayahnya selalu membawa keranjang berisi kurma Hindi (tamar hindi) sebagai kado atau hadiah spesial untuk Nabi. Saat memakan kurma hadiah tersebut, Nabi sambil meletakkan tangannya ke punggung Ratan seraya mendoakannya panjang umur. Saat itu, Ratan masih berusia 16 tahun.

Setelah itu, Ratan pulang ke kampung halamannya di India hingga meninggal. Usianya saat meninggal mencapai 632 tahun.

Setelah mengisahkan riwayat hidup ayahnya itu, pemuda cerdas putera Ratan itu pun kemudian meriwayatkan beberapa hadis yang ia dengar langsung dari ayahnya dari Nabi. Praktis, sanad itu pun hanya terdiri dari dua orang, yaitu dirinya (Mahmud), dan ayahnya (Ratan). Setelah itu, langsung Nabi sebagai sumbernya.

Baca Yuk:  Kisah Sukses Abu Hurairah (W. 59 H) Menjadi Mahaguru Besar Riwayat Hadis

Di antara hadis yang dia dengar itu adalah;

قال رتن كنت في زفاف فاطمة أنا وأكثر الصحابة وكان ثم من يغنى شيئا فطابت قلوبنا ورقصنا بضربهم الدف وقولهم الشعر فلما كان من الغد سألنا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ليلتنا فقلنا كنا في زفاف فاطمة فدعا لنا ولم ينكر علينا

“Aku bersama banyak sekali sahabat Nabi menghadiri pesta pernikahan Fatimah, puteri Nabi. Saat itu ada orang yang bernyanyi. Kami pun sangat menikmati nyanyian itu hingga kami menari-nari dan berjoget ria diiringi tabuhan rebana dan lantunan syair. Keesokan harinya, kami menanyakan perihal kelakuan kami pada malam itu kepada Nabi. Nabi justru mendoakan kami dan sama sekali tidak mengingkarinya.”

Hadis tersebut didokumentasikan oleh al-Dzahabi dan dikutip dari al-Irbili (w. >632 H; menurut al-Zirikli). Al-Irbili sendiri adalah orang yang hidup semasa dengan Ratan dan Mahmud.

Tentu hadis tersebut tidak bersanad panjang (nazil), karena disampaikan secara langsung oleh Mahmud, anak Ratan yang mengaku sebagai sahabat Nabi. Jika terkecoh dengan sanad tersebut, tentu kita akan menyatakan bahwa sanad itu sangat tinggi, luhur (‘ali), karena tidak banyak mata rantai perawinya. Sepintas orang akan menyatakan sebagai silsilah dzahab, rantai emas, sanad emas. Oleh karena itu, al-Dzahabi segera menyebutnya dengan rantai dusta, rantai palsu, alias silsilatul kadzib.

Membaca hadis tersebut, spontan ingatan saya langsung tertuju pada film-film India. Di setiap pesta pernikahan, adegannya selalu diiringi dengan tabuhan gendang berirama mirip dangdut, lalu diiringi dengan nyanyi-nyayian dan pasti juga ada joget dan tarian khas India. Acha…acha, nehi…nehi… Rasa-rasanya koq mustahil Nabi diam saja melihat seperti itu. Seandainya benar, pasti ada satu saja sahabat yang menceritakannya. Apalagi, Ratan menyebut bahwa saat itu ia bersama dengan banyak sekali sahabat Nabi. ***