Belakangan ini marak diberitakan bom bunuh diri di berbagai negara. Tak terkecuali, di negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menriknya, para pelaku bom bunuh diri itu menggunakan simbol-simbol ajaran Islam.

Bom bunuh diri memang belum pernah ada pada masa Nabi, karena saat itu teknologi bom belum dikenal oleh peradaban manusia. Namun, bukan berarti peristiwa sejenis bom bunuh diri belum ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Konon, alasan bom bunuh diri adalah istisyhad (mencari mati syahid) yang jaminan pahalanya adalah surga dengan berbagai macam kenikmatan di dalamnya. Ia juga diyakini sebagai bentuk jihad fi sabilillah.

Memang benar, istisyhad dan jihad adalah puncak ujian keimanan seseorang. Ia merupakan sebuah kewajiban dalam beragama. Seseorang memang sepantasnya mengidolakan mati syahid dan juga sudah seharusnya berjihad, berjuang menegakkan kalimat-kalimat Allah.

Namun, apakah benar cara istisyhad dan jihad di negeri kita tercinta yang damai ini dilakukan dalam bentuk bom bunuh diri, membunuh orang-orang yang tidak bersalah, atau membunuh orang-orang non-muslim, hingga merusak dan menghancurkan lingkungan? Ajaran apa kiranya yang memerintahkan hal demikian?

Bom bunuh diri yang jelas-jelas mengakibatkan terbunuhnya banyak orang tak bersalah dan rusaknya lingkungan adalah bukan jihad, karena jihad tidak boleh merusak. Meskipun salah satu bentuk jihad adalah berperang, namun perang yang dlegalkan dalam Islam adalah perang yang tidak merusak dan tidak membunuh secara brutal dan vandal. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melarang membunuh anak-anak, wanita. Beliau juga melarang merusak tanaman, lingkungan, maupun binatang. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga tidak mengakui sebagai jihad jika dilakukan karena keberaniannya, karena emosional, maupun karena riya.

Baca Yuk:  Kualitas Hadis Wiridan Surah Mu’awwidzat Tujuh Kali Setelah Jumatan

Jihad dalam arti perang hanya dilakukan dalam keadaan bertahan dari serangan atau antisipasi saat dipastikan akan diserang. Jihad dalam arti perang juga dilakukan atas perintah pimpinan tertinggi negara, dalam hal ini adalah presiden. Jika bukan presiden yang memerintahkan, maka hal itu bisa dikategorikan sebagai terorisme.

Sedangkan bom bunuh diri, jelas tidak pernah diperintahkan oleh presiden. Tidak manusiawi. Bahkan dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam salah satu hadisnya, beliau bersabda sambil menunjuk seseorang pejuang dalam perang Khaibar sebagai penghuni neraka.

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: شَهِدْنا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم خَيْبَرَ، فَقالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الإِسْلامَ: هذا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَلَمّا حَضَرَ الْقِتالُ قاتَلَ الرَّجُلُ قِتالاً شَديدًا فَأَصابَتْهُ جِراحَةٌ، فَقِيلَ يا رَسُولَ اللهِ الَّذِي قُلْتَ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّه قَدْ قاتَلَ الْيَوْمَ قِتالاً شَدِيدًا، وَقَدْ مَاتَ، فَقالَ صلى الله عليه وسلم: إِلى النَّارِ قَالَ فَكادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتابَ؛ فَبَيْنَما هُمْ عَلى ذلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِراحًا شَدِيدًا، فَلَمّا كانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلى الْجِراحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ: فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِذلِكَ، فَقالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ أَمَرَ بِلالاً فَنادى في النَّاسِ: إِنَّه لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَإِنَّ اللهَ لَيُؤَيِّدُ هذا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفاجِرِ. (متفق عليه)

 

“Dari Abu Hurairah (dan Abdullah bin Mas’ud, serta Ka’b bin Malik) r.a. berkisah, Kami pernah berjuang persama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Khaibar. Lalu, Nabi berseloroh menunjuk sambil salah salah seorang yang mengaku beragama Islam, “Orang ini termasuk penghuni neraka!”

Baca Yuk:  Ini Resep Meredakan Amarah!

Ketika perang berlangsung, orang tersebut ternyata berperang sangat semangat hingga kemudian terluka.

“Ya Rasul, orang yang Anda sebut sebagai ali neraka beberapa hari yang lalu, hari ini berperang dengan semangat yang menggebu-gebu. Dan kini, ia telah mati.” Kata para sahabat melapor sambil penasaran.

“Dia masuk neraka!” Kata Nabi singkat. Para sahabat pun bingung keheranan, bahkan hampir saja meragukan apa yang dikatakan oleh Nabi.

Ketika mereka masih dirundung keheranan yang tinggi, tiba-tiba beredar kabar bahwa dia tidak mati karena gugur di medan perang. Melainkan,  dia itu hanya terluka parah. Namun, pada malam harinya ia tidak kuat menahan nyeri lukanya itu, hingga kemudian dia bunuh diri. Lalu, Nabipun langsung dilapori berita tersebut.

“Allah Mahabesar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan rasulNya.” Kata Nabi saat mendengar berita bunuh diri saat peperangan tersebut. Kemudian, Nabi mengutus Bilal untuk mengumumkan di hadapan para sahabat,

“Sungguh, tidak akan masuk surga, kecuali jiwa-jiwa yang berserah diri kepada Allah. Sungguh, Allah memang menguatkan agama ini dengan jasa orang yang fajir.” Seru Bilal menyampaikan pesan Nabi. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa orang yang bunuh diri di medan perang dengan semangat juang yang menggebu-gebu di barisan Nabi saja tidak diridai oleh Nabi. Ia bahkan disebut sebagai orang yang fajir. Pelaku dosa besar. Ia menjadi orang fasik atau bahkan kufur, sebagaimana arti dari fajir itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan bom bunuh diri di tengah kedamaian dan menghilangkan nyawa banyak saudaranya yang seiman? Wallahu A’lam.

Semoga kita semua terhindar dari pemikiran-pemikiran yang tidak berdasar itu!

No more articles