Hadis Maudlu’: Dilarang Memalsukan Hadis-Hadis

Sebagai sosok sentris dalam ajaran Islam, tiap perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad begitu dipertimbangkan dalam pengambilan kesimpulan hukum. Suatu sabda Nabi berdampak pada keyakinan kaum muslim dalam memahami agamanya.

Sejak wafatnya beliau, ajaran-ajaran yang disampaikan Nabi mulai banyak disusun. Di samping itu, banyak beredar pernyataan yang disandarkan kepada Nabi, seakan-akan beliau yang mengucapkannya. Padahal pernyataan yang dianggap hadis tersebut tidak bisa dipastikan dari Nabi. Di sini bermula “wabah” hadis palsu di kalangan umat Islam.

Konten hadis semacam itu merentang mulai perkara ibadah, pahala dan dosa, sampai hal-hal berbau politis, serta kisah-kisah tentang akhirat. Para ulama hadis gencar melakukan telaah dan “perlawanan” terhadap fenomena hadis-hadis palsu yang merebak itu.

Oleh para ulama, hadis palsu dinamakan hadis maudlu’. Secara definitif, ulama hadis mengartikan hadis maudlu’ sebagai pernyataan dusta yang dibuat-buat, lagi disandarkan kepada Nabi Muhammad.

Hadis palsu ini adalah jenis riwayat hadis yang paling buruk dan kiranya tak perlu dipertimbangkan lebih lanjut dalam dakwah dan syariah. Mayoritas ulama hadis bersepakat bahwa hadis palsu ini tidak boleh disebarkan kepada khalayak luas, alih-alih dijadikan sumber hukum dan legitimasi politik.

Pemalsuan hadis ini dapat berupa perkataan yang diucapkan seorang pemalsu, lantas membuat sanad yang sampai kepada Nabi. Bentuk pemalsuan lain dapat berupa perkataan populer dari ulama yang dibuat sanadnya. Pemalsuan hadis ini rupanya bisa terjadi dalam matan maupun sanad.

Mengapa seseorang sampai memalsu hadis? Tentnuya ada motif yang menyebabkan hal itu. Di antara sekian alasan yang ada, satu yang ditengarai berbahaya adalah hadis yang dipalsukan oleh seorang saleh, meskipun dengan tujuan mulia. Orang-orang bisa percaya pada apa hadis yang dibuat itu, terlebih dalam perkara tasawuf dan zuhud.

Baca Yuk:  Kualitas Hadis Wiridan Surah Mu’awwidzat Tujuh Kali Setelah Jumatan

Imam as Suyuthi mencatat satu tokoh perihal ini dalam Tadribur Rawi. Maysaroh bin Abdu Rabbih suatu ketika menyampaikan suatu hadis yang aneh. Seorang ulama menanyakan padanya, “Dari mana kamu dapat hadis ini?”. Maysaroh menjawab, “Aku membuat hadis ini, suapya orang-orang termotivasi beribadah,”.

Pemalsuan hadis pun dapat berdasarkan motif politis, baik ingin mendekatkan diri pada penguasa maupun meruntuhkan agama. Sementara orang ada yang membuat hadis untuk menguatkan aliran mazhab fikih atau akidah yang dianutnya.

Bahkan, ada yang memalsu hadis dengan alasan ekonomi dan popularitas. Bukankah dengan melegitimasi diri atau barang pada Nabi, kiprah, nama yang tersohor, atau larisnya dagangan akan lebih mudah dicapai? Tapi tentu saja ini terlarang.

Hadis palsu bisa dilacak melalui keterangan ahli hadis, keterangan perawi itu sendiri, atau dari matan yang sangat aneh atau terlalu mengada-ada. Semisal dalam kasus hadis-hadis pahala atau siksa, dalam beberapa kitab disebutkan satu perbuatan yang dilakukan bisa mendapat gambaran balasan luas biasa di surga atau neraka. Padahal, Nabi kiranya tidak mungkin menjelaskan kepada umat sampai sedemikian itu.

Para ulama bersepakat mengenai keharaman periwayatan hadis palsu melalui pemahaman atas hadis berikut,

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“…Dan barangsiapa mendusta atas diriku dengan sengaja, maka bersiaplah untuk masuk neraka…” (HR. Muslim)

Karena itu, memerhatikan betul hadis yang banyak digunakan di masyarakat menjadi penting. Ulama hadis melarang persebaran hadis palsu dengan tujuan dakwah dan syariah agar keluhuran ajaran Islam tetap terjaga, serta meletakkan sabda Nabi dalam koridornya yang tepat. Mengapa melakukan suatu ajaran dengan dalil yang palsu? Tentu ini menjadi catatan.

Hal yang penting adalah meskipun suatu pernyataan disandarkan sebagai kata Nabi dan diakui sebagai hadis, ia tetap harus dicermati asal usulnya. Hadis palsu sama sekali tidak boleh dijadikan dasar ibadah dan hukum, lebih-lebih tujuan lain yang bisa membingungkan umat. Wallahu a’lam.