Hadis dan Keadilan Gender

Dr. Abdul Mustaqim, pemikir keislaman dan juga dosen UIN Sunan Kaliaga Jogjakarta, dalam riset penelitiannya mengenai hermeneutika hadis yang mengabiskan waktu lima tahun, menghasilkan sebuah buku menarik berjudul Ilmu Ma’anil Hadis -Paradigma Interkoneksi- (Berbagai Teori dan Metode Mamahami Hadis Nabi)[1].

Dari sekian judul pembahasan yang ditawarkan oleh Abdul Mustaqim dalam bukunya, memahami hadis perspektif analisis gender adalah tema menarik yang akan penulis angkat dalam artikel ini.

Analisis Gender bagi beliau merupakan konsep yang ingin membedakan laki-laki dan perempuan dari sudut pandang kontruksi sosial, di mana proses pembentukannya melalui internalisasi kultur dan budaya, bahkan serta teks-teks keagamaan.

Pendekatan ini dinilai sebagai terobosan penting untuk menghindari pemahaman normatif-dogmatis yang bias gender saat membaca sebuah hadis, tujuan intinya yakni menciptakan kesan hadis agar lebih humanis dan terhindar dari bias gender.

Setidaknya ada tiga hadis yang diangkat oleh Abdul Mustaqim dalam tulisan bernas ini.  Tiga hadis yang bersifat misogonis (meminjam istilah Fatimah Mernissi, pemikir perempuan asal Maroko. Misoginis bermakna “memiliki subtansi membenci, meremehkan, atau kurang apresiatif terhadap perempuan.”) tersebut mengurai masalah akikah, permintaan cerai, dan larangan bepergian jauh bagi perempuan tanpa mahram.

 

Hadis tersebut berbunyi

أمرنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ أن نعُقَّ عنِ الغلامِ بشاتَينِ وعن الجاريةِ بشاةٍ

“Dari Aisyah, bahwa Nabi Saw memerintahkan kita menyembelih  aqiqah untuk anak laki-laki  dua kambing, sedangkan untuk anak perempuan satu kambing.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)

Hadis tersebut dinilai oleh beliau sebagai hadis yang bias gender, atas dasar itu beliau mengkajinya dengan cermat melalui kajian sanad dan matan. Dengan penekanan pada analisis gender.

Dalam penelitiannya beliau menggunakan teori pengumpulan riwayat atau i’tibar (meminjam istilah Ibn Shalah) terlebih dahulu untuk menunjukkan keutuhan pemahaman sebuah hadis. Dari sana ditemukan bahwa hadis yang dinilai sebagai bias gender diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibn Majah, sedang yang sensitif gender (keadilan gender) diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i, Tirmdzi, Nasa’i, Thabrani, Ahmad, serta Malik.

Baca Yuk:  Hadis Tentang Menyerupai Suatu Kaum: Popularitas, Penggunaan dan Pemahamannya

Hadis tersebut adalah sebagai berikut :

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عقَّ عنِ الحسَنِ ، والحُسَيْنِ كَبشًا كَبشًا

“Dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah menyembelih aqiqah untuk Hasan dan Husain, satu kambing, satu kanmbing.” (Hadis Riwayat Abu Daud).

“Urwah bin Zubair berkata, bahwa bapaknya Urwah bin Zubair biasa menyembelih akikah untuk anak laki-lakinya satu kambing dan untuk anak perempuannya satu kambing” (Hadis Riwayat Malik)

Usai dianalisa keseluruhan hadis melalui analisis gender, baik hadis yang memihak keadilan gender atau yang tidak, beliau menemukan sedikit kontradiksi antara keduanya . oleh karena itu beliau menawarkan jalur penyelesaian pertentangan riwayat yang lazim digunakan dalam kajian hadis, yakni al-jam’u (kompromi), nasikh mansukh, dan tarjih (penguatan kualitas periwayatan).

Seraya mengutip pendapat al-Shan’ani sebenarnya kedua hadis ini bisa dikompromikan dengan kesimpulan bahwa aqiqah satu kambing untuk bayi laki-laki sudah cukup, sedangkan dua kambing maka sunnah hukumnya. Namun, bagi Abdul Mustaqim, melalui kacamata penelitiannya, hal ini belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Berlanjut ke nasikh-mansukh, menurut beliau metode ini tidak bisa ditempuh karena penanggalan periwayatan yang tidak bisa dilacak. Maka beliau melakukan tarjih. Dalam proses pen-tarjih-annya beliau mengutarakan bahwa hadis yang sensitif gender diunggulkan dibanding yang bias gender melalui tarjih riwayah fi’liyah ala qouliyyah (penguatan status hadis beredaksi tindakan atas hadis beredaksi ucapan Nabi) dan tarjih status hadis yang berkesimpulan bahwa hadis perbandingan 1:1 adalah shahih sedangkan perbandingan 2:1 adalah hasan.

Rekonsturksi Pemahaman Hadis Aqiqah

Lantas bagaimana kita memahami hadis yang terkesan bias gender tersebut? Menurut cendekiawan yang pernah menulis ‘Paradigma Tafsir Feminis’ ini mengatakan bahwa hadis tersebut harus dipahami dari semangat zaman di mana hadis tersebut disabdakan.

Baca Yuk:  Catatan-Catatan Seputar Hadis Kencing Unta

Bangsa Arab Jahiliah, yang ketika itu masih menganut sistem patriarki (sistem yang mengunggulkan laki-laki dalam peran kehidupan), menjadi konteks hadis tersebut lahir.

Mengutip ungakapan Abdullah Naim, fenomena ini merupakan evolusi syariat. Sebelum islam datang derajat perempuan sungguh diabaikan, bahkan tak segan saat ada berita anak perempuan lahir segera dikuburkan, pernikahan yang tak beretika marak dilakukan dan seterusnya. Islam datang tidak serta merta menghapus  ketimpangan itu, perwujudan diadakannya akikah sebagai apresiasi kebahagiaan atas kelahiran seorang bayi, khususnya perempuan, merupakan pertanda dimulainya evolusi keadilan bagi perempuan.

Melanjutkan ungkapan di atas, Muhammad Syahrur mengatakan bahwa tahrir al-mar’ah (pembebasan perempuan) tidak dibatasi berkahirnya dengan wafatnya Nabi, tapi dalam perkembangannya ia bertahap mengikuti perekembangan zaman. Hingga pada puncaknya tercapai apa yang diistilahkan oleh Abdul Mustaqim sebagai  prinsip dasar ajaran Islam, yakni al-musawah (keseteraan), al-adalah (keadilan), dan al-ma’ruf (kepantasan).

Lebih lanjut Abdul Mustaqim memberikan tawaran agar kita memakai hadis yang menegaskan keseteraan (hadis riwayat Abu Daud di atas), laki dan perempuan disamakan 1:1 atau 2:2. Bukankah aqiqah itu hakikatnya sarana bersyukur atas kelahiran seseorang? Dan lagi pula ia bernilai sunnah, tidak wajib.

Pada akhirnya, kata beliau, tidak ada hadis Nabi yang bersifat misoginis. Karena pada hakikatnya Nabi merupakan sosok yang sangat menjunjung tinggi kaum perempuan. Jika memang dalam periwayatan hadis kadang kita temukan demikian, maka kendalanya dua : antara hadis tersebut lemah jalur periwayatannya, atau pemahaman kita yang keliru atas hadis tersebut.

[1] Diterbitkan oleh Idea Press Yogyakarta, tahun 2016. Buku ini memiliki tebal 203 halaman, dan memuat banyak pembahasan mengenai beragam pendekatan pemahaman hadis.