Berbuka adalah sebuah kenikmatan terbesar bagi orang yang sedang berpuasa. Tak jarang, orang-orang yang berpuasa sengaja menanti-nanti kegiatan yang disebut berbuka itu dengan berbagai cara. Ada istilah ngabuburit sore, atau sekedar belanja bahan-bahan makanan dan takjil sejak pagi atau siang.  Semua itu dilakukan untuk menanti berbuka puasa. Anak-anak ketika berpuasa, juga selalu yang dinanti-nanti adalah datangnya maghrib.

Karena itu, ketika berbuka, kita dianjurkan untuk berdoa,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

(Dzahabaz-Zhoma’u wabtallatil ‘Uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.)

“Dahaga telah hilang. Urat-urat saluran pencernaan telah terbasahi. Insyallah penuh pahala.” (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i dari Ibnu Umar)

Demikianlah yang biasa disebut sebagai doa berbuka puasa. Ia adalah ungkapan kebahagiaan yang luar biasa. Ungkapan syukur. Ungkapan kepuasan setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Tenggorokan kering, kini telah terbasahi. Bisa dibayangkan sendiri seperti apa rasanya, apalagi saat Ramadhan biasanya bertepatan dengan musim panas. Di situlah ketulusan dan kepatuhan orang yang yang berpuasa benar-benar diuji. Siapa yang bisa bertahan puasa sampai waktu yang telah ditentukan, maka pasti akan berlimpahan pahala dari Allah. Demikian, makna doa atau ungkapan kebahagiaan itu.

Dalam hadis lain, yang juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu’adz bin Zahrah secara mursal, namun tetap sah diamalkan,—apalagi  menurut sebagian ulama, hadis mursal dapat dijadikan hujah—Nabi Muhammad saw ketika berbuka puasa, biasa berdoa seperti ini,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

(Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika aftortu)

“Ya Allah, karenaMu aku berpuasa. Dengan rizkiMu aku berbuka.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu al-Sunni meriwayatkan dari Mu’adz bin Zahrah juga secara mursal, bahwa terkadang Nabi berdoa seperti ini saat menjelang berbuka puasa,

Baca Yuk:  Ini Doa Awal Bulan

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَعَانَنِيْ فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ

(Alhamdu lillahil-ladzi a’anani fa shumtu, wa rozaqoni fa aftortu.)

“Segala puji bagi Allah yang telah menolongku untuk berpuasa, dan telah memberiku rizki untuk berbuka.”

Kemudian, Imam Ibnu al-Sunni meriwayatkan hadis lain tentang doa berbuka yang dinukil oleh Sayyidina Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw., seperti ini,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Allahumma laka shumna, wa ‘ala rizqika aftorna, fa taqobbal minna, innaka Antas-sami’ul ‘Alim)

“Ya Allah, karenaMu aku berpuasa. Dengan rizkiMu, aku berbuka. Aku mohon terimalah [ibadah dan doa] kami, karena Hanya Engkaulah Yang Mahamendengar dan Mahamengetahui.”

Itulah beberapa doa yang biasa dibaca ketika hendak menyantap berbuka puasa. Dan, jangan lupa baca bismillahirrahmanirrahim terlebih dahulu agar lebih berkah.

Itulah kenapa, Nabi Muhammad saw menyebutnya sebagai sebuah kebahagiaan yang spesial bagi orang yang sedang berpuasa,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: للصائم فرحتان فرحة ٌ عند فطره وفرحة ٌ عند لقاء ربه (متفق عليه)

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan juga kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa meskipun Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia penuh berkah, namun ketika seseorang telah berbuka atau telah berlebaran tidak dilarang untuk berbahagia karena sudah tidak berpuasa lagi. Adalah fitrah manusia ketika ia berbahagia ketika berbuka atau berlebaran Idul Fitri, merayakannya dengan makan-makan.

Ada dua kebahagiaan yang pasti didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Itulah yang oleh Allah disebut sebagai ibadah yang dibalas oleh Allah sendiri secara langsung.

Baca Yuk:  Ini Lho Perbuatan “Iseng” yang Bermanfaat dan Bernilai Ibadah

Saat di dunia, orang yang berpuasa pasti bahagia ketika berbuka. Lalu, saat di akhirat kelak, orang yang berpuasa akan bertemu Tuhannya. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada bertemu Tuhan. Karena itu, orang yang rajin berpuasa akan mendapatkan anugerah menanti-nantikan serta merindukan pertemuan dengan Allah sebagaimana ia menanti-menantikan datangnya maghrib atau idul fitri untuk berbuka.

Tidak hanya itu, waktu berbuka ternyata adalah waktu yang mustajab. Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis tentang keutamaan waktu berbuka untuk berdoa sebagaimana riwayat Sayyidina Amr bin al-Ash yang mendengar Rasulullah saw bersabda,

إنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ (رواه ابن ماجه)

“Sungguh, orang yang berpuasa pada saat berbuka itu memiliki doa yang tidak tidak akan ditolak.” (HR. Ibnu Majah)

Karena itulah, Sayyidina Ibnu Umar ketika berbuka, tak melewatkan kesempatan tersebut untuk berdoa. Biasanya, beliau berdoa seperti ini,

اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي

“Ya Allah, aku memohon kepadaM dengan kasih sayangMu yang meliputi segala sesuatu, mohon ampunilah aku!”

No more articles