Bagaimana marahnya Rasulullah? Apa yang beliau ajarkan untuk umat Islam? Menurut hemat penulis, marah ada yang bersifat naluriah, ada pula datang langsung dari setan. Kalau memang naluriah, apakah bisa bawaan biologis dilarang dan dicegah dari dalam diri seseorang? Tentu kurang bisa dibenarkan jika suatu hal naluriah tak tersalurkan.

Mengetahui hal itu, kiranya tinggal bagaimana marah itu dikendalikan. Marah yang bersifat naluriah ini bisa dilihat dari sabda Rasulullah Saw.

إِنَّمَا مُحَمَّدٌ بَشَرٌ، يَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ

“Sesungguhnya Muhammad Saw. juga manusia biasa, bisa marah seperti hal nya manusia lain.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasul sendiri menyatakan dirinya juga bisa marah seperti orang pada umumnya. Bedanya, marahnya Nabi Muhammad bukan berdasarkan nafsu, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah Swt.

Adakah yang salah dengan marahnya Nabi Muhammad? Sebagai manusia biasa, marahnya beliau adalah suatu hal yang bisa dianggap naluriah.

Selain marah yang merupakan bagian dari emosi seseorang, lantas bagaimana marah yang diakibatkan “setan”? Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya, marah itu datangnya dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu, apabila salah satu dari kalian marah maka berwudhulah.” (H.R. Abu Dawud).

Setan dapat dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan keburukan bagi manusia. Mengetahui hal tersebut, bagaimana membedakan marah yang merupakan sifat naluriah dan marah yang datang dari setan? Penulis melihat bahwa dua karakter marah ini tidak bisa disamakan, karena dua marah ini muncul dari potensi yang berbeda.

Baca Yuk:  Ini Resep Meredakan Amarah!

Marah naluriah adalah suatu kemarahan yang timbul dari dalam diri seseorang, disebabkan adanya ancaman yang datang kepada dirinya atau olokan yang diterima, atau terkait hal-hal yang diyakini. Respon manusia normal akan seperti hal itu atas hal-hal yang menjadi prinsipnya. Dalam kasus kemarahan Rasulullah, kemarahan beliau selalu menyangkut kepentingan yang lebih besar untuk umat.

Sedangkan marah yang datang  dari setan adalah marah sebab hasutan dengan menganggap orang lain buruk, ataupun kemarahan yang mengganggu ibadah seseorang, misalnya seperti dalam ibadah puasa.

Dilihat dari esensinya, marah bukanlah sesuatu yang dilarang secara keseluruhan. Toh manusia memang memiliki potensi itu. Akan tetapi tindakan tersebut menjadi terlarang apabila kita tidak bisa lagi mengendalikannya. Ketidakberdayaan kita saat mengontrol diri ketika marah, yang besar kemungkinan akan merugikan orang lain, sebisa mungkin harus diredakan dan dihindari.

Ketika marah tidak dihindari, marah akan menyetir kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama dan merugikan sekitar. Namun demikian, marah yang bersifat naluriah bisa jadi baik atau buruk jika bisa ada prinsip tujuan yang baik, tentu dengan teta memertimbangkan kondisi yang ada. Marah yang merupakan “bantuan setan” adalah marah yang banyak mendatangkan keburukan jika tidak bisa dikendalikan. Wallahu a’lam.

Artikel ini sebelumnya dimuat di majalahnabawi.com

No more articles