Apapun yang Disandarkan Pada Nabi, Maka Ia Hadis Marfu’

Dalam berbagai sumber hadis, Anda akan menemui bahwa sebuah hadis itu kadang terkait pribadi Nabi sendiri, kadang juga tidak. Karena itulah, penting kita ketahui tentang hadis marfu’.

Apa itu hadis marfu’? Hadis marfu’ adalah riwayat hadis yang disandarkan dan dikaitkan kepada pribadi Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun ciri pribadi beliau. Dengan catatan, sanad hadis ini belum tentu bersambung antar perawinya.

Yang jelas, baik yang menyandarkan itu seorang sahabat, tabi’in  atau ulama lain yang datang setelah generasi tersebut, syarat hadis marfu’ adalah perawi terakhir yang menyebutkan matan tersebut benar-benar menyandarkannya dengan pribadi Nabi secara langsung.

Penyandaran hadis kepada Nabi ini bisa secara jelas dinyatakan sendiri oleh perawi. Untuk model ini, jenis marfu’ kepada Nabi bisa dibagi sebagai berikut:

Pertama, marfu’ qauli, yaitu hadis yang menyebutkan sabda Nabi. Biasanya diriwayatkan dengan kata:

…قال رســــول الله

Rasulullah telah bersabda…”

Atau contoh lainnya, semisal perawi menyatakan “Aku pernah mendengar Nabi bersabda…” atau “Rasulullah menceritakan kepada kami, bahwa…” dan berbagai sabda Nabi lainnya yang disebutkan perawi, termasuk jenis pertama ini.

Kedua, marfu’ fi’li, yaitu hadis yang menyebutkan perilaku Nabi. Semisal perawi menyebutkan, “Aku pernah melihat Rasulullah melakukan ini…” atau “Bahwa Rasulullah melakukan ini…”

Ketiga, marfu’ taqriri, yaitu hadis yang menyebutkan persetujuan Nabi akan suatu hal, atau kehadiran beliau pada suatu peristiwa.

Semisal Anda dapati keterangan perawi, “Aku pernah berbuat begini di hadapan Nabi…” atau “Seseorang melakukan ini di depan Nabi…”, dan Nabi tidak mencegah atau mengingkari perbuatan itu.

Baca Yuk:  Hadis Musalsal: Pengertian dan Periwayatannya

Keempat, marfu’ washfi, yaitu hadis terkait ciri pribadi Nabi. Semisal seorang sahabat menyatakan bahwa Nabi mengenakan model pakaian tertentu, lalu bagaimana tindakan beliau ketika tidur, dan lain sebagainya.

Meskipun seorang perawi sudah menyatakan bahwa kandungan matan hadis itu terkait dengan Nabi, penyandaran kepada Nabi semata tidak cukup untuk menjadikannya sebagai dasar hukum.

Marfu’ tidak terkait dengan kesahihan sebuah hadis, sehingga tetap memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai sanad dan para perawinya. Karena itu, hadis marfu’ bisa berkualitas sahih, hasan, dla’if, bahkan bisa juga hadis palsu.

Kendati demikian, ada beberapa riwayat yang meskipun tidak disandarkan kepada Nabi, namun oleh ulama dinilai marfu’ sebab beberapa qorinah (tanda) tertentu. Riwayat seperti ini bisa disandarkan kepada para sahabat atau tabi’in. Para ulama menyebutnya marfu’ secara hukum.

Sebagai contoh, beberapa ucapan yang menunjukkan sebuah hadis dapat dihukumi marfu’ – meski hadis itu tidak disandarkan kepada Nabi, ketika seorang sahabat mengatakan: “Kami diperintahkan atau dilarang untuk…” atau “Melakukan ini termasuk sunnah,”

Sekali lagi, hadis marfu’ ini terkait dengan penyandaran matan oleh perawi pada Nabi, bukan masalah pada ketersambungan sanad perawi. Sekalipun suatu hadis para perawinya tidak bersambung (muttashil), jika ia disandarkan dan dikaitkan kepada pribadi Nabi, maka ia disebut sebagai hadis marfu’.